Oleh: Ansel Atasoge
IDUL Adha telah berlalu, namun pesannya abadi: Allah mengajarkan umat-Nya untuk menyatukan ibadah vertikal (hablum minallah) dan horizontal (hablum minannas).
Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan mengalir dalam satu irama. Mendekat kepada Sang Pencipta, sekaligus merengkuh sesama. Inilah hakikat harmoni yang dirayakan melalui Idul Adha.
Idul Adha tak lepas dari ‘kisah kurban’. Kata qurban berakar dari qarib, berarti “dekat”. Dalam tradisi Islam, ia juga merujuk pada ‘udhhiyah’, hewan sembelihan yang diserahkan sebagai wujud ketaatan.
Secara teologis, qurban adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui pengorbanan harta dan ego. Harta yang kita lepaskan bukanlah milik mutlak kita, melainkan amanah Allah yang dikembalikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dengan niat tulus mencari ridha-Nya, kita belajar bahwa mendekat kepada Allah yang Maha Besar berarti juga merangkul manusia yang ‘maha dekat’. Rangkulan yang membentuk ‘harmoni kehidupan yang indah’.
Harmoni kehidupan lahir dari keberanian menerima “yang lain” sebagai saudara dalam perbedaan. Sejatinya, Islam tidak mengenal perpecahan. Ia merangkul segala ras, suku, dan keyakinan dalam satu payung kemanusiaan.
Sebagaimana diteladankan para pemikir seperti Fethullah Gülen, Islam mengajarkan persatuan yang menghargai keragaman, bukan memecah belah.
Al-Qur’an memperkuat fondasi ini: “Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa” (QS. Al-Hujurat: 13).
Kerendahan hati, maaf-memaafkan, dan musyawarah (QS. Ali Imran: 159) di satu sisi merupakan etika dalam kehdiupan sosial. Di sisi lain, ia mencerminkan ketakwaan yang hidup dalam kebersamaan.
Idul Adha juga dikenal sebagai Hari Raya Haji. Di puncak ritualnya, jutaan manusia berdiri setara di Arafah, mengenakan kain ihram putih tanpa jahitan. Itu simbol kesederhanaan dan penghapusan sekat status di hadapan Allah.
Mereka melantunkan talbiyah: “Labbaykallahumma labbayk…”. Sebuah seruan penyerahan diri yang menghapus hierarki dan mengukuhkan persaudaraan universal. Dalam satu suara, mereka mengakui keesaan Allah dan menyatukan langkah menuju kebaikan bersama.
Qurban, haji, dan talbiyah pada hakikatnya mengajari kita satu pelajaran sederhana. Kedekatan dengan Allah tidak lengkap tanpa kepedulian pada manusia.
‘Ibadah vertikal’ yang tulus akan melahirkan ‘kepekaan horizontal’ yang nyata. Di tanah air yang plural, semangat Idul Adha merupakan panggilan untuk merawat harmoni. Ya..harmoni dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam semesta.
Selamat Hari Raya Idul Adha. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. *










