Bencana Sumatera dan Solidaritas Religius (Perspektif Sosiologi Agama) - FloresPos Net

Bencana Sumatera dan Solidaritas Religius (Perspektif Sosiologi Agama)

- Jurnalis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 09:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

BENCANA alam yang melanda Sumatera akhir tahun ini kembali menyingkap rapuhnya jalinan manusia dengan alam. Banjir yang meluap, longsor yang meruntuhkan perbukitan, serta kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan jalur kehidupan menorehkan luka fisik sekaligus mengguncang tatanan sosial masyarakat.

Rumah-rumah yang roboh lebih dari sebuah kehilangan tempat tinggal; ia melampaui batas menjadi runtuhnya ruang kenangan dan harapan. Jembatan yang patah tak terbatas pada akses jalan yang terputus, melainkan juga meretakkan ikatan sosial antar komunitas.

Bencana ini menjadi refleksi yang menyingkap betapa rapuhnya relasi manusia dengan bumi, sekaligus menjadi lukisan kehidupan yang mengingatkan kita akan tanggung jawab bersama untuk menata kembali cara hidup, saling menopang, dan menjaga rumah bersama yang bernama alam.

Baca Juga :  Ziarah Harapan Penuh Luka: Seruan Sunyi dari Lingko Lolok

Di tengah kepedihan yang melanda Sumatera, kelompok-kelompok komunitas agama dan pelbagai komunitas lainnya hadir sebagai denyut energi sosial, mengalirkan solidaritas dan menyalakan aksi nyata bagi mereka yang tertimpa derita.

Banjir bandang dan longsor yang meruntuhkan rumah serta melumpuhkan jalur kehidupan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga mengguncang tatanan sosial masyarakat. Dalam pusaran duka itu, agama tampil sebagai cahaya yang menuntun, menggerakkan hati, dan menyatukan langkah.

Aksi atas peristiwa ini mengingatkan kita bahwa religiusitas melampaui ranah ritual, menjadi kekuatan sosial yang membentuk tindakan kolektif. Émile Durkheim menegaskan bahwa agama adalah “fakta sosial” yang mempersatukan individu dalam komunitas moral.

Baca Juga :  BENTARA NET: Kebanggaan Kota Ende

Dalam konteks bencana Sumatera, doa bersama, penggalangan dana, dan pembukaan rumah ibadah sebagai posko darurat memperlihatkan bagaimana agama menjadi perekat solidaritas.

Kehadiran komunitas lintas iman dan pelbagai komunitas lainnya di lokasi bencana menunjukkan bahwa nilai kasih dan persaudaraan mampu menembus batas keyakinan, menjadikan perbedaan sebagai jembatan, bukan jurang.

Aksi sosial masyarakat Sumatera memperlihatkan dimensi praksis dari nilai religius. Relawan dari berbagai latar belakang agama bekerja sama mendistribusikan bantuan, menyiapkan dapur umum, dan mendampingi anak-anak yang trauma.

Anthony Giddens juga mengingatkan bahwa tindakan sosial selalu terkait dengan struktur yang lebih luas. Dalam hal ini, struktur religius dan kearifan lokal menjadi landasan yang memungkinkan masyarakat bergerak bersama.

Berita Terkait

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis
BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’
BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah
BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan
BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing
BENTARA NET: Di Balik Status yang Berakhir
BENTARA NET: Menanti Aksi untuk ‘Ruang Suci’
BENTARA NET: Pancawindu Kemanusiaan
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:03 WITA

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:27 WITA

BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:29 WITA

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 26 September 2026 - 10:59 WITA

BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan

Sabtu, 19 September 2026 - 11:05 WITA

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA