BENTARA NET: Menjemput Mimpi di Negeri Tirai Bambu - FloresPos Net

BENTARA NET: Menjemput Mimpi di Negeri Tirai Bambu

- Jurnalis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

KABAR menggembirakan kembali datang dari tanah Flores. Dua siswa SMA Swasta Katolik (SMAK) Syuradikara Ende, Fidelius Sopi Soka dan Gladwin Andrew Wijaya, resmi meraih beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di Nantong College of Science and Technology, Provinsi Jiangsu, China.

Sebuah prestasi pencapaian individu serentak pula sebuah pernyataan tegas. Bahwasanya, keterbatasan geografis tidak pernah menjadi penghalang bagi anak-anak NTT untuk bersaing di kancah global.

Ini bukan kali pertama SMAK Syuradikara membuktikan kualitasnya. Sebelumnya, Maria Yoana Wona Hipir dan Giorgio Peter Marthin Aditya Soan telah lebih dulu membuka jalan ke Universitas Nanzan, Jepang. Kini, Fidel dan Endro melanjutkan estafet itu ke China.

Fakta bahwa lima siswa dari sekolah yang sama dalam satu tahun berhasil menembus perguruan tinggi internasional (dua ke Jepang, dua ke China, dan satu ke Tokyo melalui jalur mandiri) adalah indikator kuat bahwa pendidikan berkualitas di daerah tidak mustahil.

Kepala SMAK Syuradikara, Bruder Kristianus Riberu, SVD, dengan bijak mengaitkan misi pendidikan sekolahnya dengan warisan spiritual Santo Yosef Freinademetz, misionaris yang mengabdikan hidupnya hingga wafat di China.

“Pergilah, kami mengutus kalian untuk meraih mimpi dan cita-cita,” pesannya. Kalimat ini memproklamirkan sebuah filosofi pendidikan yang transformative. Bahwasanya, sekolah misi tidak hanya mencetak umat yang saleh, tetapi juga warga dunia yang kompeten.

Di tengah narasi yang sering kali meminggirkan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), pencapaian ini menjadi antitesis yang menyegarkan. SMAK Syuradikara menunjukkan bahwa dengan visi yang jelas, komitmen pendidik, dan dukungan jejaring, dalam hal ini Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT, anak-anak dari pelosok Flores mampu bersaing dalam seleksi beasiswa tingkat nasional.

Pilihan Fidel untuk mendalami ‘manufacturing technology’ yang mengintegrasikan AI, robotika, dan rekayasa sistem, memiliki dasar epistemologi yang tak diragukan. China saat ini merupakan episentrum inovasi teknologi manufaktur global.

Baca Juga :  Afrizal dan Kibaran Harapan

Dengan mempelajari langsung di sumbernya, Fidel dan rekan-rekannya tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga menyerap kompetensi strategis yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam agenda hilirisasi industri dan transformasi digital.

Dukungan beasiswa yang mencakup biaya kuliah, asrama, dan uang saku bulanan sekitar 900 ribu rupiah memang terlihat sederhana. Namun, bagi banyak keluarga di NTT, ini adalah pintu emas yang mengubah ‘lintasan masa depan hidup’. Persiapan mereka mempelajari Bahasa Mandarin dan Inggris sejak dini menunjukkan kesadaran bahwa kompetensi teknis harus dibarengi dengan kecakapan komunikasi lintas budaya.

Prestasi Fidel dan Endro seyogianya menjadi pemantik bagi berbagai pemangku kepentingan untuk turut berperan aktif dalam mendorong akses pendidikan global bagi anak-anak NTT.

Bagi pemerintah daerah, pencapaian ini seharusnya menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan afirmatif yang mendukung siswa berprestasi dalam mengakses peluang beasiswa internasional.

Dukungan tersebut dapat berupa pendampingan administratif dalam proses seleksi, fasilitasi informasi beasiswa, hingga bentuk apresiasi terhadap para siswa yang kembali ke daerah sebagai agen perubahan. Langkah konkret seperti ini tidak hanya memotivasi siswa lain, tetapi juga memperkuat ekosistem pendidikan daerah dalam kancah nasional maupun global.

Di sisi lain, bagi sekolah-sekolah lain, kisah SMAK Syuradikara membuktikan bahwa kolaborasi strategis dengan berbagai pihak seperti organisasi INTI, jaringan alumni, maupun institusi pendidikan internasional dapat membuka akses yang sebelumnya terbayang mustahil.

Jejaring kemitraan ini merupakan modal sosial yang tak ternilai, yang mampu memperluas horizon kesempatan bagi siswa daerah. Dengan membangun relasi yang kuat, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang global.

Baca Juga :  BENTARA NET: Cahaya yang Menyatukan

Peran orang tua dan masyarakat juga tidak kalah pentingnya dalam proses dan perjalanan ini. Dukungan moral dan kepercayaan terhadap potensi anak merupakan fondasi utama yang menopang keberanian mereka melangkah ke dunia yang lebih luas.

Seperti diakui Fidel, rasa sedih karena harus berjauhan dari keluarga adalah hal yang wajar, namun tekad untuk meraih masa depan yang lebih baik harus tetap lebih kuat.

Dalam konteks ini, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendorong aspirasi pendidikan tinggi, sekaligus memberikan ruang bagi keluarga untuk berdiskusi dan mempersiapkan anak-anak mereka menghadapi tantangan studi di luar negeri.

Sementara itu, bagi para siswa di seluruh pelosok NTT, kisah Fidel dan Endro hendaknya menjadi bukti nyata bahwa mimpi itu layak diperjuangkan, terlepas dari latar belakang geografis maupun ekonomi. Kunci utamanya adalah menguasai bidang akademik, mengasah kemampuan bahasa asing, dan membangun mentalitas yang terbuka terhadap peluang.

Jangan takut untuk melangkah ke dunia yang lebih luas, karena setiap tantangan yang dihadapi adalah bagian dari proses pembentukan karakter dan kompetensi yang akan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa di masa depan.

Ketika Fidel dan Endro kelak kembali ke tanah air dengan bekal ilmu teknologi mutakhir, mereka tidak hanya membawa gelar sarjana. Mereka membawa harapan bahwa pembangunan Indonesia yang merata bisa dimulai dari investasi pada pendidikan anak-anak daerah. Mereka adalah duta-duta kecil yang membuktikan bahwa Flores memiliki sumber daya manusia yang siap berkontribusi pada peradaban.

Selamat berjuang, Fidel dan Endro. Raihlah ilmu sebanyak-banyaknya di Nantong. Kami di tanah air menanti kepulangan kalian. Tentu tidak hanya berharap saja pada gelar kesarjanaanmu, melainkan sebagai arsitek masa depan Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing global.

Berita Terkait

BENTARA NET: Harmoni Alam, Seni dan Budaya
BENTARA NET: Idul Adha dan Harmoni Kehidupan
BENTARA NET: Dari Wae Sambi, Pelajaran Kecil yang Besar Artinya
BENTARA NET: Kisah Vinsen dari Puncak Keliwatuwea
BENTARA NET: Merawat Jiwa Bangsa
BENTARA NET: Investasi Peradaban yang Tak Bisa Ditunda
BENTARA NET: Sekolah Rakyat dan Ketimpangan Struktural
BENTARA NET: Mengimpikan Rumah Layak Huni
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:33 WITA

BENTARA NET: Harmoni Alam, Seni dan Budaya

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:27 WITA

BENTARA NET: Idul Adha dan Harmoni Kehidupan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:47 WITA

BENTARA NET: Menjemput Mimpi di Negeri Tirai Bambu

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:36 WITA

BENTARA NET: Dari Wae Sambi, Pelajaran Kecil yang Besar Artinya

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:26 WITA

BENTARA NET: Kisah Vinsen dari Puncak Keliwatuwea

Berita Terbaru