Oleh: Ansel Atasoge
MEDIA Florespos.net, Selasa, 23 September 2025, kabarkan tentang Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, yang mengingatkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) agar menjaga penampilan sesuai norma dan etika yang berlaku.
Ingatan itu menyasar kepada larangan bertato, menguncir rambut, serta imbauan berpakaian rapi. Ingatan ini bermuara pada makna terdalam dari idealisme ‘menjadi pelayan publik’. Jadi, tidak sekedar urusan estetika yang kadang didominasi subjektivitas.
Penampilan sering dipandang sebagai bagian dari ekspresi diri. Namun, bagi ASN, ekspresi bukanlah tujuan utama. Mereka adalah wajah negara, cermin nilai, dan simbol kepercayaan rakyat. Karenanya, berpakaian sebagai seorang ASN tidak melulu soal gaya. Jauh lebih dari itu, yakni tentang ‘menghormati tugas’ dan ‘ruang publik’ yang mereka wakili.
Di mata sebagian orang, tato dan rambut kucir mungkin tampak sepele. Namun, di ruang etika birokrasi, keduanya bisa menimbulkan kesan yang bertentangan dengan nilai formalitas dan netralitas.
Filosof Yunani kuno, Socrates, pernah berkata, “Pengetahuan tentang diri adalah awal dari kebijaksanaan.” Singkatnya, mengenali peran dan tanggung jawab sebagai ASN adalah bentuk kebijaksanaan itu sendiri.
Soal berpakaian rapi sebenarnya berkaitan erat dengan kebebasan. Tuntutan akan kerapihan tidak berarti mengekang kebebasan. Ia bahkan mencoba menata kebebasan. Ya…menatanya agar selaras dengan martabat profesi apapun.
Kehadiran ASN dengan pakaian yang rapih adalah simbol keteraturan, keadilan, dan pelayanan. Singkat cerita, penampilan mereka adalah pesan diam yang berbicara tentang disiplin, hormat, dan integritas.
Di tengah arus modernisasi, menjaga nilai-nilai dan etika profesi adalah bentuk perlawanan terhadap pelapukan makna.
ASN itu individu-individu institusional yang berjalan dengan kaki manusia. Karenanya, tubuh mereka pun harus mencerminkan nilai-nilai yang mereka emban.
Imbauan Wabup Weng menjadi ajakan untuk kembali pada kesadaran penuh makna. Bahwasanya menjadi ASN adalah menjadi teladan. Dan teladan, seperti cahaya, harus tampak dalam sikap, tutur, dan penampilan.*










