Batu-Batu yang Menggugat Nurani

- Jurnalis

Sabtu, 1 November 2025 - 09:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

DI DEPAN Gedung DPRD Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) seorang pemuda bernama Frederich Fransiskus Baba Djoedye, atau Ivan, melakukan aksi damai yang tidak biasa. Ia menumpuk tiga kubik batu di pintu masuk gedung legislatif tanpa disertai orasi maupun pengeras suara.

Meskipun sunyi, aksi tersebut menyampaikan pesan yang kuat dan simbolik. Batu-batu itu menjadi representasi dari beban sosial yang belum terangkat, harapan yang tertunda, dan tuntutan publik yang belum memperoleh jawaban.

Makna dari aksi tersebut menjadi semakin jelas ketika diketahui bahwa Ivan bertindak atas nama Forum Rakyat Resah dan Gelisah Kabupaten Sikka (Fokalis).

Melalui forum ini, ia menyuarakan dua isu krusial yang menjadi sumber keresahan masyarakat, yakni buruknya pelayanan kesehatan dan lemahnya transparansi dana pokok pikiran (pokir) DPRD Sikka.

Baca Juga :  Persoalan RS TC Hillers Maumere, Framing Berita Buruk, Akun Palsu dan Kenyamanan Bekerja

Kedua isu tersebut tidak hanya bersifat administratif, tetapi menyentuh aspek fundamental kehidupan warga. Kesehatan merupakan hak dasar yang dijamin oleh konstitusi dan menjadi indikator kesejahteraan sosial. Sementara itu, dana pokir adalah instrumen politik yang seharusnya digunakan untuk menjawab kebutuhan rakyat secara langsung dan adil.

Aksi Ivan tidak dapat dipandang sebagai ekspresi individual semata, melainkan sebagai refleksi kolektif dari suara masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Kohesi antara simbol aksi dan substansi tuntutan menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya hidup dalam ruang formal, tetapi juga dalam tindakan simbolik yang menggugah kesadaran publik.

Baca Juga :  BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya

Kondisi pelayanan kesehatan di Kabupaten Sikka dinilai belum memadai dan menjadi sumber keresahan masyarakat. Warga menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan fasilitas, kekurangan tenaga medis, hingga lemahnya koordinasi antarinstansi terkait.

Akibatnya, dalam situasi yang serba terbatas ini, masyarakat merasa terpinggirkan dari hak-hak dasar yang seharusnya mereka nikmati. Mereka tidak lagi menuntut janji-janji pembangunan, melainkan mengharapkan tindakan konkret yang menyentuh kebutuhan riil.

Dalam konteks ini, pemikiran Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menjadi relevan, ketika ia menegaskan bahwa “dehumanisasi terjadi ketika struktur sosial gagal memenuhi kebutuhan dasar manusia.”

Berita Terkait

BENTARA NET: Tahbisan Uskup, Ruang Sakral dan Rekat Sosial
BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya
BENTARA NET: Arsip Statis dan Memori Kolektif
BENTARA NET: Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Krisis Ganda
‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia
BENTARA NET: Euforia Petasan
BENTARA NET: Menambal Jalan, Menambal Harapan (catatan tentang Aksi Swadaya Tendaleo)
Menata Ekonomi Lokal
Berita ini 93 kali dibaca
"BENTARA NET" setiap Sabtu dalam sepekan.

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:59 WITA

BENTARA NET: Tahbisan Uskup, Ruang Sakral dan Rekat Sosial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 08:35 WITA

BENTARA NET: Jejak Kreativitas dan Urgensi Pengarsipan Karya

Sabtu, 24 Januari 2026 - 09:38 WITA

BENTARA NET: Arsip Statis dan Memori Kolektif

Sabtu, 17 Januari 2026 - 08:37 WITA

BENTARA NET: Menyelamatkan Masa Depan Anak dari Krisis Ganda

Sabtu, 10 Januari 2026 - 08:21 WITA

‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia

Berita Terbaru

Wartawan Manggarai Barat bagikan Semabko.

Nusa Bunga

HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga

Senin, 9 Feb 2026 - 11:08 WITA

Opini

Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan

Senin, 9 Feb 2026 - 08:23 WITA