Oleh: Ansel Atasoge
AULA Kantor Pusat KSP Kopdit Pintu Air, momen RAT ke-30 menjelma bagai altar tempat angka-angka bersujud di hadapan kemanusiaan. Di sana, Rp2,6 triliun aset tidak berkilau angkuh, melainkan berbisik lembut: “Aku ada untuk melayani, bukan untuk memamerkan.”
Misa syukur yang dipimpin Mgr. Ewaldus Martinus Sedu mengalungkan pesan yang menusuk kalbu: “Setiap keputusan harus jujur dan berbelas kasih.”
Kalimat itu seakan hadir sebagai kompas moral bagi koperasi yang lahir dari keprihatinan di tepi mata air Wair Pu’an, tempat air mengalir deras bagi banyak orang, sementara yang paling dekat justru kerap menahan dahaga.
Tiga dekade silam, di Dusun Rotat yang sunyi, lima puluh orang dengan modal iman dan keberanian menabur benih kecil. Kini benih itu telah menjadi pohon rindang: 487.470 anggota, 59 kantor cabang, jangkauan yang menembus batas geografis NTT.
Namun, pertumbuhan ini bukan kebetulan. Ia adalah buah dari napas solidaritas yang tak pernah putus, dari pengelolaan yang akuntabel, dari ikhtiar yang tulus.
Nama “Pintu Air” sendiri adalah doa yang terus didaraskan agar keadilan mengalir setetes demi setetes, hingga menyentuh yang paling kecil, yang paling sunyi, yang paling tersisihkan.
Kini, di persimpangan menuju holding company, mimpi besar sedang dirajut. Visi “Mewujudkan Kemandirian Anggota Menuju Holding Company” adalah langkah progresif yang patut diapresiasi.
Namun, di balik euforia transformasi, Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengingatkan dengan bijak: “Pertumbuhan tidak boleh mengabaikan prinsip kehati-hatian.”
Ini adalah kritik yang patut direnungkan. Sebab, perubahan struktur tidak hanya berurusan bagan organisasi. Ia adalah transformasi budaya, dari keakraban tradisional menuju profesionalisme modern, dari semangat kekeluargaan menuju tata kelola akuntabel.
Tantangannya bukan pada bagaimana menjadi besar, melainkan pada bagaimana tetap menjadi manusiawi di tengah tekanan efisiensi.
Kemandirian anggota adalah roh yang tak boleh padam. Anggota dan karakteristiknya tentu bukan untuk urusan laporan-laporan dokumentasi simpan-pinjam.
Mereka adalah wajah-wajah nyata. Petani yang menunggu modal di bawah terik matahari, nelayan yang menembus ombak dengan perahu usang, ibu-ibu yang merajut harapan di sela-sela urusan domestik.
Ketika koperasi berhenti pada fungsi finansial semata, ia berisiko kehilangan jiwanya. Maka, Pintu Air harus lebih dari sekadar lembaga simpan-pinjam. Ia harus menjadi inkubator mimpi, pendamping langkah, jembatan menuju pasar yang lebih adil.
Ia pun tak melupakan prinsip ini: jujur dalam angka, berbelas kasih dalam keputusan. Profesionalisme tanpa kehilangan jiwa koperasi. Pertumbuhan yang memanusiakan.
Sebab, keberhasilan sejati bukan diukur dari neraca keuangan, melainkan dari seberapa banyak anggota yang keluar dari jerat kemiskinan, seberapa banyak usaha mikro yang naik kelas, seberapa kuat ketahanan komunitas di sekitar Pintu Air. Aset Rp2,6 triliun adalah pencapaian. Namun, warisan yang abadi adalah ketika setiap anggota bisa berkata: “Karena koperasi ini, hidupku lebih bermakna.”
Di momen itu, Mgr. Ewaldus menutup kotbahnya dengan harapan: “Semoga setiap langkah kita menjadi aliran rahmat bagi banyak orang.”
Doa yang indah. Namun, doa hanya bermakna jika menjadi karya. Kata-kata hanya abadi jika menjadi tindakan. KSP Kopdit Pintu Air telah membuktikan bahwa koperasi bisa tumbuh besar tanpa kehilangan jati diri.
Kini, di ambang transformasi, tantangannya adalah memastikan bahwa setiap keputusan strategis tetap berakar pada nilai-nilai pendiriannya: kejujuran, belas kasih, dan keadilan yang mengalir seperti air dari Wair Pu’an, jernih, menyejukkan, memberi kehidupan.
KSP Kopdit Pintu Air akan melaju dengan komitmen baru. Bahawasanya, pintu keadilan harus tetap terbuka lebar, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan.
Sebab, pada akhirnya, koperasi gerakan kemanusiaan yang berbalut angka dan angka-angka itu hanya bermakna jika menghantarkan pada kehidupan yang lebih manusiawi, lebih adil, lebih penuh kasih.*










