Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem - FloresPos Net - Page 2

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alfonsius bukan pahlawan yang mencari medali. Ia hanyalah seorang anak Flores yang memilih mengabdi di ujung timur Indonesia, merawat ternak masyarakat Jayawijaya sebagaimana ia merawat kampung halamannya sendiri. Ia pergi dengan hati yang masih hangat, dan pulang dalam peti yang dingin.

Demikian pula Willi Mbuik. Perempuan muda berusia 24 tahun dari Rote, anak bungsu dari lima bersaudara, yang ibunya telah lebih dulu dipanggil Tuhan. Ketika peluru merobek pinggang kanannya, mungkin ia merindukan pelukan yang tak lagi bisa ia rasakan. Mungkin ia memanggil nama ibu yang telah lama tiada, di tengah perjalanan menuju RSUD Wamena yang akhirnya tak mampu menyelamatkannya.

Baca Juga :  Ketimpangan yang Membunuh

Willi adalah CPNS, seorang abdi negara yang baru saja memulai pengabdiannya. Ia belum sempat membangun keluarga, belum sempat membalas budi pada almarhumah ibu, belum sempat menua dengan rambut beruban. Ia pergi di usia yang seharusnya baru menjadi prolog dari sebuah kisah panjang.

Dan Aprida Rapi, perempuan tangguh berusia 49 tahun asal Toraja, sarjana peternakan dari Universitas Hasanuddin, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang mengayuni anak-anak buahnya dengan kasih seorang ibu. Ia adalah yang paling senior, yang paling berpengalaman, yang seharusnya sudah mulai berpikir tentang masa pensiun yang tenang. Namun, tugas memanggilnya kembali ke pedalaman, dan panggilan itu menjadi ‘panggilan’ terakhirnya.

Baca Juga :  Seminari Sebagai Ruang Formasi Jiwa Religius dan Sosial (Catatan Pinggir dari Ruang Seminar Jelang Berlian Seminari San Dominggo)

Ketiga mereka gugur bukan di medan perang yang mereka pilih. Mereka gugur di jalan setapak yang mereka pilih sendiri. Jalan pengabdian, jalan pelayanan, jalan kemanusiaan. Mereka membawa bibit babi untuk masyarakat Muliama, bukan membawa senjata untuk memerangi siapa pun.

Kini, jenazah Willi telah diterbangkan ke Kupang, lalu dipulangkan ke Rote Ndao. Aprida dan Alfonsius masih menunggu di Wamena, menunggu pesawat yang akan membawa mereka pulang ke Toraja dan Maumere.

Di setiap bandara, di setiap rumah duka, air mata yang tumpah adalah air mata yang sama. Air mata yang bertanya, mengapa pengabdian harus dibayar dengan kematian?

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Longsor Terjadi di Bola, Wabup Sikka Himbau Warga Selalu Waspada

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:51 WITA