Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global - FloresPos Net - Page 2

Pertobatan Hati untuk Solidaritas Persaudaraan Global

- Jurnalis

Senin, 27 Juli 2026 - 06:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menurut Devadass, melalui proses berjalan bersama, Gereja didorong menjadi jembatan yang mempersatukan berbagai agama, budaya, dan komunitas di tengah dunia yang kian terpolarisasi.

Dengan demikian, sinodalitas tidak hanya menjadi metode pastoral, tetapi juga jalan pertobatan kolektif yang memperkokoh soliditas persaudaraan global.

”Bagaimana Gereja di Asia lebih menjadi persekutuan, membangun jembatan dengan berbagai agama, budaya, dan komunitas di tengah dunia yang terpolarisasi…merefleksikan bagaimana jalan agar semakin menjadi lebih sinodal di Asia” (Kompas, 24 Juli 2026).

Menjunjung Tinggi Martabat Manusia

Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan bahwa pertobatan yang menjadi tema Sidang Pleno XII FABC bukan hanya relevan bagi Gereja Katolik di Asia, tetapi juga merupakan panggilan moral bagi setiap pemimpin dan pembuat kebijakan.

Baca Juga :  Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Dalam konteks Asia, salah satu buah nyata dari pertobatan hati adalah keberanian untuk menjunjung tinggi martabat manusia, terutama di tengah kenyataan bahwa penghormatan terhadap nilai kemanusiaan masih sering terabaikan. “Pertobatan itu, … semisal dalam hal menjunjung tinggi martabat manusia karena di banyak tempat di Asia, martabat manusia belum banyak dihormati” (Kompas, 24 Juli 2026).

Dalam ajaran Gereja Katolik, martabat manusia berakar pada keyakinan bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Karena itu, setiap pribadi memiliki nilai luhur yang tidak ditentukan oleh status sosial, agama, etnis, kekayaan, ataupun kekuasaan.

Baca Juga :  Bara Ketidakpuasan untuk Demokrasi yang Bertopeng

Pertobatan hati menuntut perubahan cara pandang terhadap sesama: dari melihat manusia sebagai instrumen politik menuju pengakuan bahwa setiap orang adalah pribadi yang harus dihormati dan dilindungi.

Ketika martabat manusia dihormati, maka diskriminasi, kekerasan, eksploitasi, dan berbagai bentuk dehumanisasi, mestinya menyerah kalah di depan benteng moral yang kokoh.

Sebaliknya, penghormatan terhadap kehidupan, kebebasan hati nurani, keadilan, dan kesejahteraan bersama menjadi “batu karang” bagi terciptanya persaudaraan yang melampaui batas agama, budaya, bangsa, dan kepentingan politik.

Berita Terkait

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Berita ini 154 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Kamis, 10 September 2026 - 19:11 WITA

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Berita Terbaru