Di berita, beliau ditulis: “1 dari 200 korban terdampak”. Tapi Mama Imelda bukan angka. Beliau adalah suara yang dulu memanggil anak pulang magrib. Tangan yang menjahit baju sekolah dengan benang warna-warni. Doa yang dibisikkan tiap subuh untuk anak dan cucu.
Gempa mengambil atapnya. Jangan sampai kita ikut mengambil kemanusiaannya dengan melupakannya.
Ada lapar yang tidak fotogenik. Lapar Mama Imelda saat beras tinggal segenggam. Saat minyak habis dan tungku dingin. Saat harus memilih: beli obat atau beli telur. “Saya tidak minta banyak,” katanya. “Saya hanya ingin bisa masak lagi di dapur saya sendiri.”
Sebuah kalimat sederhana. Tapi berat, karena dapurnya sudah tidak ada. Kerusakan paling parah bukan di tembok. Tapi di dada. Setiap kali ada guncangan kecil, jantung Mama Imelda berlari lebih dulu daripada kaki. Setiap malam, beliau tidur dengan satu mata terbuka. Trauma tidak punya tanggal kedaluwarsa.
Kita membangun kembali rumah dengan semen. Tapi siapa yang membangun kembali rasa amannya?Untungnya, bumi belum kehilangan manusia. Tetangga masih datang membawa air. Anak muda masih menyapu puing.
Ada yang menitipkan beras. Ada yang menitipkan doa. Ini buktinya: gempa bisa meruntuhkan dinding, tapi tidak bisa meruntuhkan kita.
Selama masih ada tangan yang mau terulur, selama itu pula harapan belum mati. Maka mari kita bicara tentang hal kecil. Sekeping beras untuk mengganjal lapar hari ini. Setetes minyak untuk menghidupkan kompor besok. Selimut untuk malam yang dingin. Terpal untuk hujan yang tidak menunggu.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










