‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’ - FloresPos Net - Page 2

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

- Jurnalis

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di berita, beliau ditulis: “1 dari 200 korban terdampak”. Tapi Mama Imelda bukan angka. Beliau adalah suara yang dulu memanggil anak pulang magrib. Tangan yang menjahit baju sekolah dengan benang warna-warni. Doa yang dibisikkan tiap subuh untuk anak dan cucu.

Gempa mengambil atapnya. Jangan sampai kita ikut mengambil kemanusiaannya dengan melupakannya.

Ada lapar yang tidak fotogenik. Lapar Mama Imelda saat beras tinggal segenggam. Saat minyak habis dan tungku dingin. Saat harus memilih: beli obat atau beli telur. “Saya tidak minta banyak,” katanya. “Saya hanya ingin bisa masak lagi di dapur saya sendiri.”

Baca Juga :  Menyiasati Mitos Bangsa Korup(tor)

Sebuah kalimat sederhana. Tapi berat, karena dapurnya sudah tidak ada. Kerusakan paling parah bukan di tembok. Tapi di dada. Setiap kali ada guncangan kecil, jantung Mama Imelda berlari lebih dulu daripada kaki. Setiap malam, beliau tidur dengan satu mata terbuka. Trauma tidak punya tanggal kedaluwarsa.

Kita membangun kembali rumah dengan semen. Tapi siapa yang membangun kembali rasa amannya?Untungnya, bumi belum kehilangan manusia. Tetangga masih datang membawa air. Anak muda masih menyapu puing.

Baca Juga :  Antara Debat dan Penaklukan (sekadar iris tipis)

Ada yang menitipkan beras. Ada yang menitipkan doa. Ini buktinya: gempa bisa meruntuhkan dinding, tapi tidak bisa meruntuhkan kita.

Selama masih ada tangan yang mau terulur, selama itu pula harapan belum mati. Maka mari kita bicara tentang hal kecil. Sekeping beras untuk mengganjal lapar hari ini. Setetes minyak untuk menghidupkan kompor besok. Selimut untuk malam yang dingin. Terpal untuk hujan yang tidak menunggu.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan
Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores
Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan
Mewaspadai Solidaritas yang Berlapis Untung
Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:55 WITA

‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:46 WITA

Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:36 WITA

Etika Kehadiran dan Passion Kemanusiaan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Trauma Healing Anak SD dan PAUD di Tengah Duka Gempa Flores

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:58 WITA

Jalur Sepeda di Jakarta: Antara Dilema Efektivitas, Mandat Regulasi, dan Solusi Masa Depan

Berita Terbaru