Bantuan tidak harus besar. Bantuan harus terus. Karena pemulihan bukan sprint. Pemulihan adalah maraton.
Gempa mengajari kita 3 hal: Bahwa rumah bisa roboh, tapi keluarga tidak boleh. Bahwa bantuan tidak boleh musiman. Bahwa kemanusiaan diuji bukan saat bencana, tapi setelahnya.
Mama Imelda adalah guru kita hari ini. Beliau mengajari tentang kuat. Tentang sabar. Tentang tetap berdoa walau atap sudah tiada. Jadi, ketika gempa berlalu, siapa yang peduli pada Mama Imelda? Jawabannya harus kita.
Jangan biarkan empati kita ikut retak seperti tembok rumahnya. Jangan biarkan kepedulian kita ikut terkubur bersama puing.
Mari alirkan bantuan. Terus. Sampai Mama Imelda bisa menanak nasi lagi di dapurnya. Sampai beliau bisa tidur tanpa takut. Sampai senyumnya kembali, lebih kuat dari guncangan apapun. Karena pada akhirnya, membangun kembali manusia… jauh lebih penting daripada membangun kembali rumah.*
Editor : Wall Abulat










