Demikianlah goresan kecil seputar solidaritas sosial, jurnalisme terlibat, dan pers sebagai pilar keempat demokrasi.
Kiranya catatan kecil ini bisa menggugah para insan jurnalis, khususnya yang berjibaku meliputi dampak gempa tektonik 7,7 skala richter Flores dan bahkan di saat merenda literasi jurnalistiknya terkadang lari terbirit-birit saat terjadi gempa susulan,dan atau atau mungkin yang mendapatkan sorotan miring sebagai jurnalisme abal-abal; jurnalis gadungan, atau jurnalis asal bapak senang (ABS) untuk tetap semangat menjalankan misi mulia sebagai sosok kemanusiaan yang terlibat dan insan yang mengemban tugas sebagai pilar keempat demokrasi.
Mari kita terus menyalakan aksi solidaritas kemanusiaan gempa tektonik Flores seraya memahami esensi panggilan sebagai jurnalisme terlibat, dan memaknai pers sebagai pilar keempat demokrasi secara benar dan bertanggung jawab. *
Penulis, adalah Jurnalis Senior, dan Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati










