Di banyak wilayah, air tanah dan permukaan terkontaminasi logam berat ini, mengancam kesehatan warga dan ternak. Konteks Flores sangat rentan. Flores adalah wilayah dengan curah hujan rendah dan rawan kekeringan. Proyek geothermal membutuhkan konsumsi air tawar yang masif (hingga 5–30 m³ per meter pengeboran) untuk proses drilling dan pendinginan.
Mempertaruhkan cadangan air tanah yang sudah kritis di NTT demi proyek yang belum tentu memberikan manfaat langsung kepada warga adalah bentuk kejahatan ekologis.
Selain itu, Mgr Frans Kopong secara tepat mengingatkan bahwa Flores dan Lembata adalah pulau vulkanik kecil yang sedang menghadapi erupsi (seperti Lewotobi dan Ile Lewotolok) serta gempa bumi.
Mengebor perut bumi di wilayah yang secara alamiah sedang tidak stabil sama dengan menambah penderitaan masyarakat, belum lagi risiko emisi gas Hidrogen Sulfida (H₂S) dan mikroseismik yang sering diremehkan dalam studi kelayakan.
Studi Hughes & Rogei (2020) tentang proyek Olkaria di Kenya menjadi cermin yang sangat relevan untuk Flores. Proyek tersebut mengakibatkan pemindahan paksa (involuntary resettlement) terhadap ratusan keluarga Maasai.
Warga dipindahkan ke lahan yang tidak subur, kehilangan akses ke situs suci, dan ternak mereka mati akibat perubahan topografi. Janji kompensasi dan sertifikat tanah sering kali tidak terpenuhi.
Di Flores, tanah tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan entitas budaya, spiritual, dan sumber penghidupan agraris. Jika proyek ini mengakuisisi lahan adat atau area sakral, dampaknya adalah disintegrasi sosial.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










