Oleh: Ansel Atasoge
PENDIDIKAN pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia, terutama di saat keadaan sedang paling rentan.
Pasca-Gempa Flores pada Agustus 2026, ketika debu bencana masih menyisakan duka dan ketidakpastian, dunia pendidikan di Kabupaten Sikka memilih untuk tetap berdiri tegak.
Bukti nyata dari ketangguhan ini ditorehkan oleh empat pelajar SMAN 2 Maumere yang berhasil lolos seleksi Festival Sains Nasional (FSN) 2026 di Bandung, Jawa Barat. Pencapaian ini merupakan manifestasi konkret dari harapan yang tumbuh subur di tengah keterbatasan.
Keempat pelajar tersebut, Maria Viddi Febriyanti (Kebumian), Apriliani Ernesta Kurnyati (Kimia), Maria Nona Letty (Fisika), dan Petrusciano Leonardo Kirchberger (Geografi), memilih bidang ilmu yang sangat relevan dengan konteks lingkungan mereka. Mempelajari bumi, unsur kimia, hukum fisika, dan bentang alam pasca-bencana adalah bentuk pendalaman eksistensial.
Dalam perspektif ini, sains tidak lagi dipandang sebagai deretan rumus hafalan yang kering, melainkan menjadi alat untuk memahami, memulihkan, dan membangun kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam yang baru saja bergolak.
Peran pendidik dalam narasi ini sangatlah sentral dan menentukan. Keputusan Kepala SMAN 2 Maumere, Petrus Yakobus Sorowea, untuk memfokuskan bimbingan pada sembilan siswa terpilih menunjukkan esensi dari pedagogi yang berkualitas.
Pendidikan yang transformatif tidak diukur dari kuantitas peserta yang didaftarkan, melainkan dari intensitas pendampingan dan pengakuan akan potensi unik setiap individu.
Halaman : 1 2 Selanjutnya










