Namun, ada sebuah panggilan yang lebih dalam yang tak pernah benar-benar padam di lubuk hatinya. Pada 2017, Tubo kembali menanggalkan jas putihnya, melangkah masuk ke Himo Tiong Ritapiret untuk menjalani Tahun Orientasi Rohani.
Di sanalah ia menyadari bahwa menyembuhkan jiwa jauh lebih mendesak daripada merawat raga. Semangat kehausannya akan kebenaran membawanya ke STFK/IFTK Ledalero, di mana ia menyelami samudra filsafat dari tahun 2018 hingga 2022. Pikirannya diasah untuk merenungkan misteri eksistensi manusia dan Allah, merajut logika dan iman menjadi satu kesatuan yang utuh.
Perpaduan unik antara latar belakang medis dan kedalaman filsafat ini kemudian menemukan wujud nyatanya ketika ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Rumah Sakit Bukit Lewoleba (2022-2024).
Di ruang-ruang rawat yang dipenuhi penderitaan, Tubo tidak hanya hadir sebagai seorang frater, melainkan sebagai seorang sahabat yang mengerti betul bahasa rasa sakit. Ia merangkul mereka yang terbaring lemah, membawa hadirat Kristus melalui sentuhan kemanusiaan yang hangat.
Setelah itu, ia melanjutkan pendalaman akademisnya dengan menempuh studi S2 di IFTK Ledalero hingga tahun 2026, mempertajam pemikirannya demi pelayanan yang lebih cerdas dan berempati.
Puncak dari seluruh perziarahan panjang ini akhirnya tiba. Pada 11 Juni 2026, di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, Tubo berlutut dan menerima Tahbisan Diakonat. Ia resmi menjadi pelayan altar dan sabda.
Panggilan pelayanannya terus diuji dan dimurnikan melalui Praktik Diakonat di Paroki St. Yosef Lewotobi sepanjang Juli hingga Oktober 2026. Di tengah umat yang ia layani dengan penuh sukacita, kerinduannya untuk mempersembahkan diri seutuhnya kian membara.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










