Maka, pada 29 Oktober 2026, di dalam Gereja Katedral Larantuka, Tubo membentang tubuhnya di lantai gereja, sebuah simbol penyerahan diri total di hadapan Yang Mahakuasa.
Melalui penumpangan tangan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, ia ditahbiskan menjadi Imam.
Saat itulah, ia menyematkan sebuah moto yang menjadi ringkasan dari seluruh perjalanan hidupnya: “Sungguh tak terselami jalan-jalan-Mu, ya Tuhan.”
Moto ini adalah pengakuan jujur dari seorang anak Paroki Hinga Dekenat Adonara yang pernah belajar menyembuhkan tubuh, lalu dipanggil untuk merawat jiwa.
Tubo menyadari sepenuhnya bahwa dari Seminari Menengah hingga ruang kuliah kedokteran, dari ruang filsafat Ledalero hingga lorong-lorong Rumah Sakit Lewoleba, Allah senantiasa menuntunnya dengan cara-cara yang melampaui nalar manusia.
Kini, sebagai seorang imam, ia melangkah maju dengan ketundukan penuh pada misteri kasih Ilahi yang selalu mencukupkan.
Perziarahan Romo Romanus Tubo Ola mengajarkan kita bahwa panggilan Allah selalu unik, personal, dan penuh kejutan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










