Dua Uskup, 3 Profesor, 21 Doktor dan 17 Magister Berkontribusi Sukseskan Sanpio Goes Synodal - FloresPos Net

Dua Uskup, 3 Profesor, 21 Doktor dan 17 Magister Berkontribusi Sukseskan Sanpio Goes Synodal

- Jurnalis

Rabu, 17 September 2025 - 07:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari kiri ke kanan: M. Mantovanny Tapung, RD. Fransiskus H. Warman,  Romanus Ndau, Benny K. Harman; RD. Agustinus Manfred Habur, Jonas K,G.D, Gobang,  dan Fransiska Widyawati, berpose bersama usai bedah buku di Aula Seminari Sanpio Kisol, Sabtu (6/9/2025). Foto Istimewa.

Dari kiri ke kanan: M. Mantovanny Tapung, RD. Fransiskus H. Warman, Romanus Ndau, Benny K. Harman; RD. Agustinus Manfred Habur, Jonas K,G.D, Gobang, dan Fransiska Widyawati, berpose bersama usai bedah buku di Aula Seminari Sanpio Kisol, Sabtu (6/9/2025). Foto Istimewa.

Oleh: Walburgus Abulat 

MOMEN Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Seminari Santo Pius (Sanpio) XII Kisol telah usai pada Senin 8 September 2025 lalu. Untuk memaknai momen berahmat ini, panitia bekerja sama dengan para pihak menyukseskan aneka kegiatan, termasuk kegiatan bedah buku bertajuk Sanpio Goes Synodal: Revolusi Pendidikan Melalui Spiritualitas Ekaristi Transformatif.

Buku ini dibedah dalam seminar Nasional yang dibuka secara resmi oleh Praeses Seminari Sanpio Kisol Reverendus Dominus (RD) Fransiskus H. Warman, S.Fil, S.Pd pada Senin 6 September 2025 lalu.

Buku yang dieditor oleh Dosen Universitas Katolik (Unika) Santo Paulus Ruteng Assosiate Prof. Dr. Mantovanny Tapung, S.Fil, M.Pd ini menghasilkan 38 tulisan dari para pakar di bidangnya, termasuk dua Uskup yakni Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat yang juga Mantan Pembantu Ketua (Puket) III Institut Filsafat dan Tekhnologi Kreatif (IFTK) Ledalero yang menulis prolog buku ini; dan Uskup Keuskupan Labuan Bajo (KLB) Mgr. Dr. Maksimus Regus yang juga Mantan Rektor Unika Santo Paulus Ruteng yang menulis epilog.

Selain dua uskup, buku ini juga memuat puluhan artikel menarik dari 3 orang profesor yakni Prof Dr. Hieronimus Canggung Darong, Prof Dr. Frams Salesman, SE, M.Kes, dan Prof. Gabriel Lele, serta tulisan dari 21 doktor, dan 17 magister dari pelbagai disiplin ilmu.

Buku ini sangat spesial karena berisikan puluhan terobosan, inovasi yang bakal menjadi saksi mata transformasi pendidikan calon imam di tanah Flores.

Betapa tidak. Dari pendirian yang sederhana pada tahun 1955 hingga kini, Sanpio telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya mempertahankan tradisi keunggulan akademik dan spiritual, tetapi juga berani merespons tantangan zaman dengan pendekatan yang inovatif dan kontekstual.

Assosiate Prof. Doktor Mantovanny dalam kata pengantar bedah buku terbaru ini menulis bahwa Buku “Sanpio Goes Synodal: Revolusi Pendidikan Melalui Spiritualitas Ekaristi Transformatif” hadir sebagai refleksi mendalam atas ziarah panjang ini, sekaligus menjadi peta jalan untuk masa depan pendidikan seminari yang semakin kompleks dan menantang.

Dalam era digital yang ditandai dengan percepatan informasi, perubahan sosial yang tak terduga, dan tantangan global yang multidimensional, Sanpio tidak sekadar bertahan, melainkan selalu berupaya mendesain transformasi pendidikan calon imam yang relevan dan transformatif.

Konsep “synodal” yang menjadi tema sentral buku ini, lanjut Doktor Mantovanny, bukanlah sekadar mengikuti tren gerejawi kontemporer, melainkan sebuah komitmen mendalam untuk menciptakan pendidikan yang partisipatif, inklusif, dan berorientasi pada pemberdayaan komunitas.

“Sinodalitas dalam konteks Sanpio dipahami sebagai cara baru dalam mendidik calon imam yang tidak hanya kompeten secara akademik dan spiritual, tetapi juga mampu menjadi agen transformasi sosial yang efektif di tengah masyarakat yang semakin plural dan dinamis.”

Spiritualitas Ekaristi Transformatif yang menjadi sub judul buku ini, lanjut Doktor Mantovanny, merupakan jantung dari revolusi pendidikan yang sedang berlangsung di Sanpio.

Ekaristi bukan sekadar ritual liturgis, melainkan paradigma hidup yang mengintegrasikan dimensi mistik dan profetik dalam pembentukan calon imam. Melalui spiritualitas ekaristis, para seminaris diajak untuk tidak hanya mengalami persatuan dengan Kristus, tetapi juga terpanggil untuk mewujudkan kasih Allah dalam aksi nyata bagi transformasi dunia.

Struktur Buku

Assosate Prof. Doktor Mantovanny mengakui bahwa struktur buku ini dibangun berdasarkan lima pilar pembinaan yang telah menjadi DNA Sanpio sejak berdirinya, yakni: Sanctitas, Scientia, Sanitas, Sapientia, dan Solidaritas.

Kelima batu tungku (penta helix) ini bukan sekadar konsep teoretis, melainkan kerangka kerja komprehensif yang mengintegrasikan seluruh dimensi pembentukan calon imam dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Pertama/Bagian I: SANCTITAS – Spiritualitas Digital dan Keaslian Iman

Era digital telah mengubah lanskap spiritualitas kontemporer secara fundamental. Media sosial, teknologi digital, dan kemudahan akses informasi memberikan peluang besar sekaligus tantangan serius bagi pembentukan spiritual calon imam.

Bagian pertama buku ini mengeksplorasi bagaimana mengembangkan kekudusan autentik di tengah dinamika digital yang tidak pernah berhenti.

Bagian ini terdiri dari tujuh (7) artikel. Br. Yosep Undung, SVD, Ph.D., membuka diskusi dengan analisis mendalam tentang “Praksis Ekaristi dan Kurikulum Tersembunyi dalam Pembentukan Calon Imam”.

Artikel ini mengungkap bagaimana Ekaristi tidak hanya berfungsi sebagai puncak liturgi, tetapi juga sebagai kurikulum tersembunyi yang membentuk karakter dan spiritualitas calon imam secara holistik.

Pendekatan formatif yang diusulkan Bruder Yosep menekankan pada integrasi antara pengalaman mistik dalam Ekaristi dengan pembelajaran praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., melanjutkan dengan eksplorasi “Katekese, Liturgi, dan Formasi Seminari: Relasi Sirkular yang Dinamis.”

Romo Manfred mengembangkan pemahaman tentang bagaimana ketiga elemen ini saling memperkuat dalam menciptakan ekosistem pembentukan yang utuh.

Relasi sirkular yang dinamis ini memungkinkan pembelajaran yang tidak linear, melainkan spiral, di mana setiap level pemahaman memperdalam dan memperkaya level sebelumnya.

Isu kesehatan mental yang semakin krusial di kalangan generasi muda mendapat perhatian khusus dalam artikel Frans Laka Lazar, S.Fil., M.Sc., yang membahas “Kesehatan Mental Calon Imam: Spiritualitas Ekaristi Sebagai Terapi Holistik.”

Pater Frans mengintegrasikan perspektif psikologi klinis dengan spiritualitas ekaristis untuk mengembangkan model terapi holistik yang relevan bagi calon imam. Pendekatan ini mengakui bahwa kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari kesehatan spiritual.

Fransiskus Soda Betu, S. Fil., M.Pd., menghadirkan perspektif pedagogis melalui “Kurikulum Ekaristis: Menata Ulang Formasi Calon Imam Dalam Bingkai Liturgi Yang Mendidik.”

Romo Frans mengusulkan paradigma baru dalam penyusunan kurikulum seminari yang menempatkan liturgi bukan sekadar sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai metode pembelajaran yang mengintegrasikan seluruh aspek formasi.

Dimensi biblis mendapat porsi penting melalui kontribusi Fransiskus Nala, Lic. Theol., dengan analisis eksegesis “Aku Percaya, Tuhan: Transformasi dari Kebutaan kepada Iman dalam Yohanes 9:1-41.”

Romo Frans menggunakan narasi penyembuhan orang buta sejak lahir sebagai model transformasi iman yang relevan bagi perjalanan seminaris dari keraguan menuju kepastian iman.

Tarsisius Gantura, M.Pd., menghadirkan perspektif kontekstual melalui “Pendidikan Hening Di Era Bising: Relevansi Spirit Hening Leo Perik.”

Pak Tarsi mengeksplorasi kearifan lokal Manggarai yang dapat memperkaya spiritualitas seminaris di tengah hiruk-pikuk era digital. Spirit hening Leo Perik menjadi alternatif spiritualitas yang berakar pada tanah Flores namun relevan secara universal.

Baca Juga :  Suster Lucia, CIJ: Sosok Biarawati Peduli ODGJ, Penulis Buku, Penyair, dan Penyanyi

Bagian ini ditutup dengan kontribusi visioner Marianus Supar Jelahut, S. Fil., M.Pd., tentang “Literasi Spiritual 4.0: Menenun Iman, Akal, Dan Teknologi dalam Formasi Calon Imam Era Digital.”

Marianus Supar Jelahut mengembangkan konsep literasi spiritual yang mengintegrasikan dimensi iman, rasionalitas, dan teknologi dalam satu kesatuan yang harmonis, mempersiapkan calon imam yang tidak gagap teknologi namun tetap berakar pada spiritualitas yang mendalam.

Kedua/Bagian 2: SCIENTIA – Formasi Berkelanjutan dan Pendidikan Abad 21

Bagian kedua mengeksplorasi dimensi intelektual pembentukan calon imam yang harus responsif terhadap perkembangan sains, teknologi, dan metodologi pembelajaran kontemporer.

Scientia dalam konteks Sanpio tidak sekadar penguasaan ilmu pengetahuan tradisional, melainkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi dalam menghadapi tantangan pastoral masa depan.

Bagian ini terdiri dari sebelas (11) artikel. Prof. Dr. Hieronimus Canggung Darong dan Dr. Erna Mena Niman membuka diskusi dengan pertanyaan filosofis fundamental: “It is deep. How to deepen deeper?”

Artikel ini mengeksplorasi epistemologi pembelajaran yang tidak berhenti pada permukaan, melainkan terus menggali kedalaman pengetahuan dengan metodologi yang semakin canggih dan komprehensif.

Dr. Marianus Mantovanny Tapung menghadirkan perspektif transformatif melalui “Dari ‘I-It’ ke ‘I-Thou’: Kurikulum Merdeka dan Transformasi Pendidikan Seminaris Berkebhinekaan Global.

“Pak Mantovanny menggunakan kerangka filosofis Martin Buber untuk mengkritisi pendekatan pendidikan yang obyektifikasi menuju pendidikan yang relasional dan personalistik, sangat relevan dengan semangat kurikulum merdeka yang sedang bergulir di Indonesia.”

Ferdinandus Jehalut, S.Fil., M.A., menganalisis fenomena kontemporer dalam “Tantangan Aktivisme Digital di Indonesia dan Relevansinya untuk Pendidikan Calon Imam.”

Pak Ferdi mengeksplorasi bagaimana aktivisme digital dapat menjadi medium evangelisasi sekaligus tantangan bagi calon imam dalam mempertahankan keseimbangan antara keterlibatan sosial dan spiritualitas.

Sr. Lidwin Maria Yuvensia Daso, S.Fil., M.Pd., menghadirkan model integratif dalam “Sinergitas Untuk Transformasi Pendidikan: Integrasi Coaching, Dialog, dan Teknologi dalam Semangat Sinodalitas.” Suster Lidwin mengembangkan metodologi pembelajaran yang menggabungkan pendekatan coaching personal, dialog komunal, dan pemanfaatan teknologi dalam semangat sinodalitas yang partisipatif.

Dr. Wahyuni Purnami mengangkat isu lingkungan melalui “Transformasi Pendidikan Abad 21 melalui Keterampilan Berpikir Kritis Ekologi (Eco Critical Thinking Skill) para Seminaris.”

Ibu Ami mengintegrasikan kesadaran ekologis dengan pengembangan critical thinking skills, mempersiapkan calon imam yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga sensitif terhadap krisis lingkungan.

Genoveva Dua Eni, S.Pd., M.Pd., mengeksplorasi dimensi komunikasi global dalam “Komunikasi Antarbudaya: Pentingnya Bahasa Inggris dalam Pembinaan Seminaris.”

Ibu Genoveva menekankan pentingnya kompetensi bahasa internasional sebagai medium evangelisasi dan dialog dalam konteks global yang semakin terhubung.

Dr. Hendikus Midun, S.Fil., M.Pd., menganalisis “Hidden Curriculum sebagai Rekayasa Pedagogis untuk Derivasi Karakter Calon Imam.”

Pak Hendrik mengungkap bagaimana kurikulum tersembunyi dalam kehidupan seminari memiliki peran yang sama pentingnya dengan kurikulum formal dalam pembentukan karakter calon imam.

Dr. Gabriel Fredi Daar, S.Pd., M.Pd., mengeksplorasi “Kompetensi Pragmatik dalam Pendidikan Seminari: Persiapan Komunikasi Efektif dalam Misi Lintas Budaya.”

Pak Fredi mengembangkan framework kompetensi komunikasi yang tidak hanya gramatikal tetapi juga pragmatik, sangat esensial bagi pelayanan pastoral di tengah masyarakat yang beragam.

Frumensius Gions, Lic.Th., menghadirkan refleksi filosofis dalam “Pendidikan: Keutamaan dan Ingatan Moral.”

Pater Gions mengeksplorasi bagaimana pendidikan seminari tidak hanya mentransmisikan pengetahuan tetapi juga membentuk ingatan moral yang akan menjadi kompas etis dalam pelayanan pastoral.

Dr. Tobias Gunas, S.S.,M.Pd.mengulas mengenai “Kecerdasan Linguistik Berbasis Kompetensi Pragmatik dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa Inggris di Seminari Pius XII Kisol”.

Pak Tobi ini mengeksplorasi integrasi kecerdasan linguistik dengan kompetensi pragmatik dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan seminari.

Penelitian menganalisis bagaimana pemahaman konteks sosial- budaya dan penggunaan bahasa yang tepat situasional dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran bahasa Inggris bagi calon imam, serta implikasinya terhadap kurikulum dan metodologi pengajaran di Sanpio.

Bagian ini ditutup dengan kontribusi unik Dr. Maksimilianus Jemali dalam “Kedai Kopi Habermas untuk Seminari.”

Pak Lian menggunakan metafora kedai kopi sebagai ruang dialog rasional ala Habermas untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang demokratis dan partisipatif di lingkungan seminari.

Bagian 3: SANITAS – Kesehatan Holistik dan Kesadaran Mental

Bagian ketiga mengangkat isu kesehatan holistik yang mencakup dimensi fisik, mental, emosional, dan spiritual. Sanitas dalam konteks pembentukan calon imam menjadi semakin krusial mengingat kompleksitas tantangan pastoral yang akan dihadapi dan tekanan hidup modern yang semakin intens. Bagian ini terdiri dari empat (4) artikel.

Prof. Dr. Frans Salesman, S.E, M.Kes, membuka diskusi dengan “Integrasi Pelayanan Kesehatan dan Pelayanan Pastoral Gereja Katholik.”

Prof Frans mengeksplorasi bagaimana pelayanan kesehatan dan pastoral dapat diintegrasikan dalam satu visi holistik yang melihat manusia sebagai kesatuan jiwa-raga yang tidak terpisahkan.

Heronimus Emilianus Sarjono Wejang, S. Fil., M.Pd., menghadirkan visi integratif dalam “Ad Astra Per Aspera: Menuju Bintang Panggilan Melalui Jalan Kesucian, Kebijaksanaan, Ilmu, Solidaritas, Dan Kesehatan.”

Pak Nimus menggunakan motto Latin klasik untuk menggambarkan perjalanan formasi seminaris yang holistik menuju panggilan imam yang utuh.

Dr. Hendrikus Pedro, S.Fil., M.A., menganalisis “Keanekaragaman Motivasi dan Kepribadian Seminaris Dalam Formasi Menjadi Imam.”

Pak Pedro mengeksplorasi bagaimana keunikan individual setiap seminaris dapat diakomodasi dalam sistem pembentukan yang tetap mempertahankan standar universal panggilan imam.

Adrianus Nabung, S. Fil., M. Pd., menghadirkan refleksi retrospektif dalam “Menyoal Cetak Biru Tata Kelola Pendidikan Katolik di Manggarai: Refleksi Retrospektif 70 Tahun Sanpio.”

Pak Adri melakukan evaluasi kritis terhadap sistem pendidikan Katolik di Manggarai dan mengusulkan model tata kelola yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan zaman.

Bagian 4:SAPIENTIA-Kepemimpinan Partisipatif- Transformatif dan Pastoral Kontekstual

Bagian keempat mengeksplorasi dimensi kebijaksanaan dalam kepemimpinan gerejawi yang harus adaptif dengan dinamika sosial-politik kontemporer.

Sapientia dalam konteks ini tidak hanya merujuk pada kebijaksanaan individual, tetapi juga kemampuan untuk memfasilitasi kebijaksanaan komunal melalui proses partisipatif. Bagian ini terdiri dari delapan (8) artikel.

Baca Juga :  Belum Waktunya Berhenti, Coach! Dialektika Batin di Balik Trofi ETMC Kesembilan PSN Ngada

Prof. Dr. Gabriel Lele mengawali dengan “Mendidik Seminaris, Menyiapkan Demos: Urgensi Penguatan Civic Education.”

Prof Gebi menekankan pentingnya pendidikan kewarganegaraan dalam pembentukan calon imam yang tidak hanya menjadi pemimpin spiritual tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab.

Dr. Rikardus Jehaut menghadirkan perspektif historis dalam “Dari Konsili Trente Menuju Konsili Vatikan II dan Sesudahnya: Menalar Evolusi Pemikiran Gereja tentang Seminari Menengah.”

Romo Ardus melacak evolusi konsep seminari dari era Kontra-Reformasi hingga semangat pembaruan Vatikan II dan implikasinya bagi seminari kontemporer.

Dr. Fransiska Widyawati mengeksplorasi dimensi misionaris dalam “Menjadi Misionaris Global Dan Implikasinya Bagi Seminari Pius XII Kisol, Keuskupan Ruteng.”

Ibu Ansi menganalisis bagaimana Sanpio dapat mempersiapkan misionaris yang tidak hanya lokal tetapi juga global dalam visi dan kompetensi.

Dr. Jonas Klemens Gregorius Dori Gobang, S.Fil., M.A., menganalisis “Demokrasi yang Sedang Menjadi di Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Komunikasi Politik untuk Pastoral Terlibat dalam Tata Dunia Para Seminaris.”

Doktor Gerry mengeksplorasi bagaimana calon imam dapat memahami dan terlibat dalam proses demokratisasi Indonesia melalui pastoral yang kontekstual.

Dr. Hironimus Bandur menghadirkan konsep inovatif dalam “Dari Ekaristi Transformatif Menuju Mental Pastoral-preneur: Formasi Seminaris Menuju Pelayan Pastoral yang kreatif dan Inovatif di Masa Depan.”

Romo Hiro mengintegrasikan semangat entrepreneurship dengan spiritualitas ekaristis untuk menciptakan model pelayanan pastoral yang kreatif dan berkelanjutan.

Ernestus Holivil, S.Fil., MPA, mengeksplorasi “Sinodalitas dan Demokrasi: Jalan Bersama dari Gereja ke Negara.”

Pak Ernest menganalisis bagaimana prinsip-prinsip sinodalitas dalam Gereja dapat berkontribusi pada penguatan demokrasi dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Pius Rengka, SH., M.Sc., menganalisis “Seminari Kisol dalam Dinamika Perubahan Sosial Politik.”

Pak Pius mengeksplorasi bagaimana Sanpio dapat beradaptasi dan berkontribusi dalam dinamika perubahan sosial politik yang terus berlangsung di Indonesia.

Dr. Benediktus Denar menutup bagian ini dengan “Seminari Poskolonial: Reimajinasi Pendidikan Calon Imam di Manggarai.”

Romo Beni menghadirkan kritik poskolonial terhadap model pendidikan seminari dan mengusulkan reimajinasi yang lebih kontekstual dan emansipatoris.

Bagian 5: SOLIDARITAS – Lingkungan dan Kemanusiaan Global

Bagian terakhir mengeksplorasi dimensi solidaritas yang mencakup kepedulian terhadap krisis ekologi, kemiskinan global, dan isu-isu keadilan sosial kontemporer.

Solidaritas dalam konteks Sanpio dipahami sebagai komitmen konkret untuk terlibat dalam transformasi dunia menuju keadilan dan keberlanjutan. Bagian ini terdiri dari delapan (8) artikel.

Dr. Anselmus Dore Woho Atasoge, Dr. Ignasius Suswakara, dan Dr. Yohanes Hans Monteiro mengawali dengan “Interfaith Synodality: Membangun Dialog dan Kolaborasi dalam Keberagaman.

”Pak Ansel, Pak Ignas, dan Romo Hans mengeksplorasi bagaimana semangat sinodalitas dapat diterapkan dalam konteks dialog antaragama dan kerja sama lintas iman.”

Dr. Inosensius Sutam mengeksplorasi konsep Lonto Léok dalam tradisi Manggarai sebagai kearifan lokal yang relevan untuk pembentukan calon imam. Lonto Léok mencerminkan nilai-nilai spiritual dan budaya Manggarai yang dapat diintegrasikan dalam pendidikan seminari, memperkaya formasi rohani dengan perspektif kontekstual yang menghubungkan iman Katolik dengan warisan budaya setempat.

Dr. Lukas Bera, S.Pd., M.M., menghadirkan kearifan lokal dalam “Nilai Modung Mior: Kearifan Lokal Sikka dalam Menumbuhkan Toleransi dan Etika Kehidupan Gerejawi Umat Katolik.”

Pak Lukas mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai tradisional Sikka dapat memperkaya kehidupan gerejawi dan menumbuhkan toleransi dalam masyarakat plural.

Hendrikus Genggor, S.IP, M.Pd., menganalisis “Lembaga Pendidikan Seminari dan Realita Kemiskinan di NTT: Menggemakan Pendidikan yang Menumbuhkan Kreativitas.

” Pak Riki mengeksplorasi bagaimana seminari dapat berkontribusi dalam mengatasi kemiskinan melalui pendidikan yang menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

Eduardo Edwin Ramda, S.E., M.Han., menghadirkan “Climate Discipleship: Pedoman Spiritualitas Menghadapi Krisis Iklim Global.”

Pak Edwin mengintegrasikan spiritualitas dengan aktivisme lingkungan dalam konsep climate discipleship yang praktis dan transformatif.

Emilianus Eo Kutu Goo, S.Kom., MM., mengeksplorasi “Digital Fundraising: Strategi Penggalangan Dana Gereja di Era Teknologi.”

Pak Emil mengembangkan model penggalangan dana yang memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung misi gerejawi yang berkelanjutan.

Paulus Libu Lamawitak, S.Fil., MM., menghadirkan “Ekonomi Sirkular Komunitas Berbasis Spiritualitas.”

Pak Paul mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dengan spiritualitas untuk menciptakan model ekonomi yang adil dan berkelanjutan.

Dr. Siprianus Edi Hardum, S.I.P, S.H., M.H menutup dengan “Judi Memiskinkan Manusia dan Tantangan Pastoral Pada Masa Kini dan Masa Depan.”

Pak Edi menganalisis dampak judi terhadap kemiskinan dan mengusulkan strategi pastoral yang efektif untuk mengatasinya.

Menurut Doktor Mantovanny buku “Sanpio Goes Synodal” ini bukan sekadar kumpulan artikel akademis, melainkan manifesto transformasi pendidikan seminari yang berani menghadapi tantangan masa depan.

Melalui lima pilar 5S yang telah teruji selama tujuh puluh tahun, Sanpio membuktikan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan dalam menciptakan pendidikan yang relevan dan transformatif.

Dan, revolusi pendidikan yang digagas dalam buku ini bukanlah revolusi yang merusak, melainkan transformasi yang membangun.

Spiritualitas Ekaristi Transformatif menjadi jiwa dari seluruh proses transformasi ini, memastikan bahwa setiap perubahan tetap berakar pada misteri iman yang mendalam sambil responsif terhadap tanda-tanda zaman.

“Semoga buku ini menjadi inspirasi tidak hanya bagi Sanpio, tetapi juga bagi seluruh lembaga pendidikan Katolik dalam mengembangkan model pendidikan yang holistik, transformatif, dan relevan dengan tantangan abad ke-21. Ad astra per aspera-menuju bintang melalui jalan yang berliku-,Sanpio terus melangkah dengan keyakinan total bahwa pendidikan yang berkualitas adalah investasi terbaik untuk masa depan Gereja dan duniam” katanya.

Demikianlah sinopsis buku berjudul Sanpio Goes Synodal: Revolusi Pendidikan Melalui Spiritualitas Ekaristi Transformatif yang dieditor Dr. Marianus Mantovanny Tapung, S. Fil., M.Pd.

Kiranya buku yang menuangkan unisitas pemikiran dari 2 uskup, empat profesor, 20 dosen, dan 17 magister menjadi inspirasi tidak hanya bagi Sanpio, tetapi juga bagi seluruh lembaga pendidikan Katolik dalam mengembangkan model pendidikan yang holistik, transformatif, dan relevan dengan tantangan abad ke-21.

Ad astra per aspera-menuju bintang melalui jalan yang berliku-, Sanpio terus melangkah dengan keyakinan total bahwa pendidikan yang berkualitas adalah investasi terbaik untuk masa depan Gereja dan dunia.*

Penulis Adalah: Alumnus Sanpio, Wapemred Florespos.net.

Penulis : Walburgus Abulat

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

English is Fun: Kolaborasi Hangat Rita English Club dan Cristo Re English Club dalam English Night
Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)
LNBM Berkomitmen Terus Nyalakan Lentera Riset dan Pemberdayaan ke  Seantero Indonesia
Konsisten Selamatkan Satwa Komodo dan Habitatnya, Warga Pota Matim Raih Kalpataru dan Aneka Penghargaan
Janji Allah dan Keteguhan Hati, Pesan Ramadan dari Mimbar Subuh Nurul Iman Waiwerang
Babak Baru di Ujung Dermaga
Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM)
Bang Nik: Sosok Dosen, Peneliti, Penulis Buku dan Pernah Menimba Ilmu di Israel
Berita ini 792 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 11:39 WITA

English is Fun: Kolaborasi Hangat Rita English Club dan Cristo Re English Club dalam English Night

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:32 WITA

Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)

Jumat, 6 Maret 2026 - 09:51 WITA

LNBM Berkomitmen Terus Nyalakan Lentera Riset dan Pemberdayaan ke  Seantero Indonesia

Minggu, 1 Maret 2026 - 16:03 WITA

Konsisten Selamatkan Satwa Komodo dan Habitatnya, Warga Pota Matim Raih Kalpataru dan Aneka Penghargaan

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:46 WITA

Janji Allah dan Keteguhan Hati, Pesan Ramadan dari Mimbar Subuh Nurul Iman Waiwerang

Berita Terbaru

Aloysius Wisu Parera

Opini

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 Apr 2026 - 12:56 WITA

Opini

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Selasa, 21 Apr 2026 - 12:07 WITA