Babak Baru di Ujung Dermaga - FloresPos Net

Babak Baru di Ujung Dermaga

- Jurnalis

Senin, 16 Februari 2026 - 21:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidak ada yang benar-benar tahu kapan sebuah perjalanan berubah menjadi sejarah.

Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory

Di ujung dermaga itu, yang tampak bukan sekadar sekelompok anak muda yang hendak berlayar menuju Kupang, melainkan sekelompok anak muda yang hendak melakukan sebuah penyeberangan zaman.

Menjelang satu abad perjalanan Seminari Mataloko, keberangkatan ini menjadi tanda bahwa sejarah tidak hanya dikenang, tetapi diciptakan kembali oleh keberanian generasi baru.

Momentum Historis

Januari 2026 menjadi momentum historis bagi Seminari Mataloko. Pertama kalinya dalam sejarah, lembaga ini membawa 117 siswa menyeberangi laut menuju Kupang. Rombongan ini berangkat untuk mengadakan pementasan kolaboratif sebagai bagian dari rangkaian menuju satu abad seminari.

Ketika seminari memutuskan untuk melangkah keluar dari batas kebiasaan dan mempersembahkan diri ke ruang publik Kupang, keputusan tersebut menjadi sebuah tindakan historis. Ini adalah inisiasi sejarah, sebuah awal yang menandai babak baru dalam perjalanan seminari menjelang satu abadnya.

Membawa 117 siswa menyeberangi laut bukan perkara sederhana. Ia memuat risiko, kecemasan dan juga kemungkinan gagal. Namun, itu juga harus disertai dengan tanggung jawab dan kepercayaan yang tinggi.

Søren Kierkegaard menyebut keberanian seperti ini sebagai lompatan iman (leap of faith), yakni keputusan yang tidak sepenuhnya dijamin oleh kalkulasi rasional, tetapi oleh kepercayaan dan tanggung jawab (Kierkegaard, Fear and Trembling, 1843).

Peristiwa Pedagogis

John Dewey dalam Experience and Education (1938) menekankan bahwa pendidikan sejati terjadi melalui pengalaman konkret (lived experience). Pengalaman yang menantang, penuh risiko, dan melibatkan kerja sama kolektif, memiliki daya formasi yang lebih dalam daripada pembelajaran teoritis semata. Pendidikan, menurut Dewey, tidak terjadi pertama-tama melalui transmisi teori, melainkan juga melalui interaksi aktif antara subjek dan lingkungannya.

Perjalanan laut, kemampuan beradaptasi dengan ruang asing, persiapan intensif, pementasan di hadapan publik, semua itu menjadi laboratorium pembentukan karakter. Para siswa belajar tentang disiplin, solidaritas, pengorbanan, dan keberanian tampil. Pengalaman tersebut menyatukan dimensi intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Semua itu merupakan proses pendidikan yang autentik.

Momen Aktualisasi Potensi

Aristoteles dalam bukunya Metaphysics (1924), membedakan antara dynamis (kemampuan atau potensi) dan energeia (aktualitas atau realisasi). Potensi menunjuk pada kemungkinan yang dimiliki suatu entitas untuk menjadi sesuatu. Aktualitas adalah terwujudnya kemungkinan itu dalam kenyataan.

Pentasan seminaris dapat dipahami sebagai momen aktualisasi. Mereka bukan lagi sekadar remaja yang memiliki bakat terpendam, melainkan subjek yang sedang mengaktualkan kemampuan artistik, intelektual, dan spiritualnya.

Pementasan di Kupang menjadi titik transisi, dari sekadar “mampu tampil” menjadi “benar-benar tampil” dan dari sekadar “berbakat” menjadi “mengaktualkan bakat”.

Dengan demikian, kehebatan siswa seminari dalam pentasan tidak hanya menunjukkan kecakapan artistik, melainkan kesungguhan proses menjadi. Mereka sedang bergerak dari potensi menuju aktualitas, dari kemungkinan menuju kenyataan, dari dynamis menuju energeia.

Pengalaman Estetis

Ketika penonton terdiam oleh kualitas sebuah pementasan seni, peristiwa yang terjadi sesungguhnya melampaui kategori hiburan. Keheningan itu menandai hadirnya pengalaman estetis yang mendalam. Penonton tidak lagi berhadapan dengan karya seni sebagai objek konsumsi, tetapi sebagai pengalaman reflektif yang membebaskan.

Dalam konteks pementasan para seminaris, respons penonton yang tersentuh oleh harmoni gerak, musik, dialog, dan makna menunjukkan bahwa seni mampu menarik masuk penonton ke dalam dunia simbolik pertunjukan. Dalam situasi ini, seni berfungsi sebagai medium transformasi kesadaran.

Fenomena ini dapat dianalisis secara filosofis melalui teori estetika modern, khususnya gagasan Immanuel Kant mengenai pengalaman keindahan sebagai disinterested pleasure atau kesenangan tanpa pamrih (Immanuel Kant, A Critique of Judgment, 1790). Pengalaman estetis inilah yang membuat penonton dapat bertahan berjam-jam hingga pementasan berakhir.

Baca Juga :  BPOLBF dan TikTok Gelar Kontras I Bersama Komunitas Seni Labuan Bajo

Misteri di Balik Jubah Putih

117 siswa Seminari Mataloko telah sampai di tanah Kupang, langkah anak-anak yang meninggalkan rumah, menanggalkan kenyamanan, dan menukar kepastian dengan misteri.

Mereka berani memasuki lorong sunyi bernama panggilan, menembus sebuah misteri di balik jubah putih.

Di balik jubah putih yang ingin mereka kenakan, tersimpan sebuah perjalanan batin yang sunyi dan sepi. Jubah itu tampak sederhana dari kejauhan. Putih, tenang, bersih, seolah hanya sehelai kain yang menunggu untuk dikenakan.

Banyak orang melihatnya sebagai tanda kehormatan, lambang kesucian, atau mahkota panggilan. Namun bagi seminaris, jubah bukanlah pakaian yang sekadar dipakai. Ia adalah keputusan yang perlahan-lahan menjahit dirinya ke dalam jiwa.

Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa sebelum jubah itu menyentuh bahu, ada malam-malam panjang yang harus dilewati dalam kesunyian.

Ada hari-hari ketika keraguan menggerogoti diri: Apakah aku sungguh mampu? Ada momen-momen ketika rindu datang tanpa diundang. Rindu pada rumah, pada suara ibu, pada tawa masa muda yang bebas tanpa tuntutan. Ada kenangan yang diam-diam mengetuk hati, menghadirkan wajah-wajah yang pernah dicintai, dan kemungkinan hidup lain yang perlahan harus dilepaskan.

Ada rasa takut yang jarang diucapkan. Takut gagal setia. Takut tidak cukup kuat. Takut suatu hari nanti hati menjadi kering ketika dunia terus bergerak dengan warna-warna yang menggoda. Di malam yang sunyi, sering kali pergulatan paling berat justru terjadi dalam diam, ketika seminaris harus berdamai dengan dirinya sendiri.

Suatu hari nanti, ketika jubah itu akhirnya dikenakan, orang-orang mungkin hanya melihat warna putihnya. Mereka tidak melihat keraguan yang pernah menggetarkan langkah, doa-doa yang diucapkan sambil menahan air mata, atau keputusan-keputusan kecil yang diambil berulang kali setiap hari untuk tetap berjalan. Mereka telah pamit dari tanah Kupang, tetapi perjalanan baru saja dimulai.

Di Balik Layar

Panggung hanyalah puncak gunung es. Sebelum tirai terbuka, ada kecemasan logistik, perhitungan waktu, pengaturan konsumsi, penginapan, transportasi, hingga koordinasi yang nyaris tak terlihat oleh publik.

Ketika para seminaris melangkah dengan percaya diri di atas panggung, sesungguhnya mereka berjalan di atas fondasi kasih yang telah lebih dahulu disiapkan oleh para orang tua dan alumni. Semua berkorban demi keberlangsungan sebuah cita-cita pendidikan calon imam.

Metafora “puncak gunung es” dapat dikaitkan dengan pendekatan fenomenologi, khususnya pemikiran Edmund Husserl. Husserl menegaskan bahwa apa yang tampak (phenomenon) selalu ditopang oleh struktur makna yang tersembunyi (Husserl, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology, 1983).

Penampilan seminaris di atas panggung merupakan fenomena yang hadir bagi kesadaran publik, tetapi realitas sejatinya mencakup intensionalitas kolektif, yaitu kerja keras, kecemasan, dan pengorbanan panitia yang tidak terlihat.

POT (Perhimpunan Orang Tua) Siswa Seminari Mataloko Regio Timur menjadi simbol keterlibatan keluarga dalam proses formasi. Orang tua tidak lagi berdiri di luar perjalanan pendidikan anak-anaknya, tetapi juga masuk ke dalam sejarahnya.

Mereka menjembatani jarak antara rumah dan seminari, antara kasih keluarga dan panggilan hidup. Dalam kerja mereka, pementasan berubah menjadi peristiwa emosional. Anak-anak tampil, tetapi cinta orang tua ikut berbicara melalui setiap detail yang dipersiapkan.

Sementara itu, Alsemat Kupang (Alumni Seminari Mataloko Asal Kupang) menghadirkan dimensi lain, yakni ingatan temporal. Para alumni memahami seminari sebagai pengalaman hidup yang pernah membentuk diri mereka.

Karena itu, keterlibatan mereka bukan sekadar bantuan teknis, melainkan sebuah tindakan balas budi eksistensial. Mereka seolah berkata bahwa apa yang dahulu diterima tidak boleh berhenti pada generasi mereka.

Maka ketika para seminaris muda tampil di Kupang, para alumni sebenarnya sedang melihat masa lalu mereka berjalan kembali, lebih muda, lebih segar, tetapi membawa semangat yang sama.

Baca Juga :  Future School, Sinergi Lokalitas dan Globalitas (Perspektif Filsafat Pendidikan)

Martin Heidegger dalam Being and Time (1962) melihat manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam rentang waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan (temporality). Alumni terlibat bukan sekadar membantu, tetapi menghidupi kembali pengalaman formasi yang pernah membentuk diri mereka.

Masa lalu tidak berhenti sebagai nostalgia, tetapi menjadi tanggung jawab terhadap masa depan. Dalam arti ini, keterlibatan alumni merupakan tindakan autentik. Mereka memilih merawat warisan yang pernah memberi arah hidup mereka.

Kolaborasi antara POT dan Alsemat Kupang menciptakan sebuah jaringan solidaritas lintas generasi. Orang tua mewakili asal-usul, alumni mewakili perjalanan, dan para seminaris mewakili masa depan.

Ketiganya bertemu dalam satu ruang peristiwa, menjadikan pementasan bukan sekadar acara seni, melainkan perayaan komunitas. Di sini, seni tidak hanya dipentaskan. Ia dihidupi bersama.

Maka pementasan Seminari Mataloko di Kupang sesungguhnya adalah kisah tentang kolaborasi iman dan kerja. Tepuk tangan penonton tidak hanya ditujukan kepada para aktor, tetapi juga kepada mereka yang memilih berdiri di belakang panggung.

Sebab setiap cahaya yang menyinari panggung selalu membutuhkan seseorang yang setia menjaga lampunya tetap menyala. Mungkin di situlah makna terdalamnya bahwa karya besar tidak pernah lahir dari satu nama, tetapi dari banyak hati yang rela menjadi sunyi agar keindahan dapat berbicara.

Dengan demikian, panggung menjadi simbol manifestasi dari kerja kolektif yang jarang disadari.

Harapan di Ujung Perjalanan

Pada akhirnya, perjalanan ini tidak berhenti ketika kapal merapat, lampu panggung dipadamkan, atau tepuk tangan perlahan menghilang dalam malam 31 Januari di aula Undana Kupang.

Setiap peristiwa besar selalu meninggalkan sesuatu. Apa yang telah terjadi bukan sekadar rangkaian kegiatan menuju satu abad Seminari Mataloko, melainkan sebuah penegasan bahwa sejarah hidup bukan warisan yang hanya dikenang, tetapi panggilan yang terus diperbarui oleh keberanian generasi yang datang kemudian.

Perjalanan para seminaris memperlihatkan bahwa pendidikan sejati tidak pernah selesai di ruang kelas, seni tidak berhenti di panggung, dan panggilan tidak lahir dalam kepastian yang nyaman. Ia tumbuh dalam perjalanan, dalam risiko, dalam kerja bersama yang sering kali tidak terlihat. Di sanalah manusia belajar menjadi dirinya sendiri, perlahan, rapuh, tetapi setia bergerak menuju makna yang lebih dalam.

Harapannya, pengalaman ini tidak berhenti sebagai kenangan seremonial, tetapi menjadi benih yang terus hidup dalam ingatan komunitas. Semoga para seminaris yang pernah berdiri di ujung dermaga itu kelak mengingat bahwa mereka pernah berani melangkah ketika masa depan belum sepenuhnya jelas.

Semoga para orang tua tetap menemukan sukacita karena kasih mereka telah menjelma menjadi kekuatan yang menumbuhkan. Semoga para alumni terus menjaga nyala ingatan, agar tradisi tidak membeku sebagai masa lalu, tetapi tetap bernapas sebagai harapan.

Jika suatu hari nanti jubah putih itu benar-benar dikenakan, biarlah ia tidak hanya menjadi simbol kesucian, tetapi juga tanda perjalanan panjang yang ditempa oleh pengalaman, solidaritas, dan pengorbanan banyak hati. Sebab di balik setiap panggilan besar selalu ada komunitas yang diam-diam menopangnya.

Maka kisah ini sesungguhnya belum selesai. Ia baru saja berlayar. Di setiap generasi yang akan datang, mungkin akan selalu ada sekelompok anak muda lain yang berdiri di ujung dermaga, memandang laut yang sama, membawa harapan yang baru, dan dengan keberanian yang sederhana, kembali menciptakan sejarah. *

Penulis adalah Sutradara Pementasan Kolaboratif: Misteri di Balik Jubah Putih

Berita Terkait

Dukung Generasi Emas, Polres Ende Mulai Bangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Slog Polri
Ombudsman NTT Pantau Kesiapan Mudik Bandara El Tari Kupang Pastikan Layanan Disabilitas dan Kelompok Rentan
Junirius Pimpin Gamanusratim IPB
Wujudkan Kepedulian Sosial Jelang Idul Fitri, BRI Maumere Berbagi 500 Paket Sembako, Libatkan Yayasan Awalindo
Paripurna LKPj Bupati Ende 2025 Baru Dibuka Langsung Ricuh
Pemda Ngada Bersama PLN Teken MoU Tentang Pemungutan dan Penyetoran Tenaga Listrik
97 ASN di Manggarai Barat Diestimasikan Pensiun 2026
Wujudkan Literasi di Kabupaten Sikka, Kadis Disarpus Bertemu Ketua Forum TBM
Berita ini 137 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:32 WITA

Dukung Generasi Emas, Polres Ende Mulai Bangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Slog Polri

Selasa, 17 Maret 2026 - 12:05 WITA

Ombudsman NTT Pantau Kesiapan Mudik Bandara El Tari Kupang Pastikan Layanan Disabilitas dan Kelompok Rentan

Selasa, 17 Maret 2026 - 10:32 WITA

Junirius Pimpin Gamanusratim IPB

Selasa, 17 Maret 2026 - 07:56 WITA

Wujudkan Kepedulian Sosial Jelang Idul Fitri, BRI Maumere Berbagi 500 Paket Sembako, Libatkan Yayasan Awalindo

Senin, 16 Maret 2026 - 21:57 WITA

Paripurna LKPj Bupati Ende 2025 Baru Dibuka Langsung Ricuh

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Junirius Pimpin Gamanusratim IPB

Selasa, 17 Mar 2026 - 10:32 WITA

Nusa Bunga

Paripurna LKPj Bupati Ende 2025 Baru Dibuka Langsung Ricuh

Senin, 16 Mar 2026 - 21:57 WITA