Oleh: Muhammad Timur Sulaiman
LANGIT Waiwerang Kota, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Rabu (25/2/2026) masih diselimuti cahaya lembut fajar ketika jamaah mulai memadati Masjid Nurul Iman.
Usai salat Subuh berjamaah, mereka tidak segera beranjak. Sebagian tetap duduk bersila, sebagian lagi merapatkan saf, menanti dimulainya kuliah Subuh yang menjadi salah satu denyut spiritual Ramadan di masjid itu.
Ramadan memang selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih teduh, langkah menuju masjid lebih ringan, dan hati lebih mudah tersentuh oleh nasihat.
Pagi itu, Ustadz Ikhrah Hidayah kembali berdiri di hadapan jamaah untuk menyampaikan tausiyah dengan tema “Kita Mengikuti Perintah Allah dengan Janji yang Akan Kita Dapatkan di Kelak Kemudian Hari”.
Dengan suara tenang, ia membuka ceramahnya dengan satu kalimat yang mengundang renungan.
“Sesungguhnya manusia yang paling bahagia hidupnya di dunia ini adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah.”
Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu identik dengan kelapangan harta atau kemudahan hidup. Menurutnya, banyak manusia merasa sempit dan gelisah karena tidak menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan tunjukkan jalan keluar dari setiap masalah. Masalah dunia, masalah akhirat. Dan Allah akan datangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ini janji yang diberikan oleh Allah SWT,” ujarnya.

Ustadz Ikhrah mengajak jamaah untuk mengukur diri, apakah ciri-ciri orang bertakwa telah tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa salah satu tanda ketakwaan adalah keyakinan penuh terhadap janji Allah serta kepatuhan tanpa memilih-milih perintah.
“Yang dilihat adalah siapa yang memberikan perintah. Tidak terkesan dengan apa isi perintahnya,” katanya.
Ia kemudian mengisahkan perjalanan ibu Nabi Musa ketika menerima perintah Allah untuk menghanyutkan bayinya ke sungai. Perintah itu secara manusiawi terasa berat dan menakutkan, terlebih saat Fir’aun memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki dari Bani Israil.
Namun, karena keimanan dan ketakwaannya, ibu Nabi Musa tetap taat. “Jangan engkau takut dan jangan pula bersedih,” ucapnya menirukan janji Allah yang menguatkan hati seorang ibu.
Allah bukan hanya menjanjikan keselamatan, tetapi juga kemuliaan. Bayi Musa yang dihanyutkan justru sampai ke lingkungan istana Fir’aun, lalu kelak dikembalikan kepada ibunya. Kisah itu, menurut Ustadz Ikhrah, menjadi bukti nyata bahwa janji Allah tidak pernah meleset.
“Karena yang berkuasa adalah Allah. Yang menghidupkan adalah Allah, yang mematikan adalah Allah,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa ketakwaan menuntut kesungguhan dalam menjalankan seluruh perintah Allah, baik yang terasa ringan maupun yang berat. Ramadan, katanya, adalah ruang latihan untuk membentuk keteguhan itu.
“Kita jangan memilih-milih perintah Allah. Yang menyenangkan kita kerjakan, yang tidak menyenangkan kita tinggalkan. Mengamalkan perintah yang tidak sesuai dengan nafsu itu di situlah janji-janji besar Allah,” ujarnya.
Suasana masjid pagi itu hening. Sebagian jamaah tampak menunduk, sebagian lagi mengangguk perlahan. Pesan tentang istiqamah menjadi penekanan di akhir ceramah.
“Kita ini selalu menunda amal. Kita bilang masih panjang waktu. Padahal kita tidak tahu apakah besok masih ada,” katanya.
Ia berharap semangat ibadah yang tumbuh selama Ramadan tidak berhenti saat bulan suci berlalu. Salat berjamaah, memakmurkan masjid, serta menjaga amal wajib agar tetap tampak dan terjaga dalam kehidupan sosial menjadi bagian dari syiar yang tidak boleh padam.
Di balik terselenggaranya kuliah Subuh tersebut, ada peran Ustadz Haji Dahlan selaku takmir Masjid Nurul Iman.
Ditemui usai kegiatan pada Rabu, 25 Februari 2026, ia menjelaskan bahwa kuliah Subuh tahun ini merupakan kali kedua diselenggarakan secara rutin selama Ramadan.
“Tujuannya antara lain membimbing umat agar momen-momen Ramadan ini kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk diisi dengan hal-hal yang positif,” ujarnya.

Ia mengaku sempat pesimis ketika program itu pertama kali direncanakan. Namun kenyataannya, respons jamaah justru di luar dugaan.
“Alhamdulillah, untuk respon jamaah ini sangat antusias. Bahkan di luar dugaan kita. Yang istiqamah mengikuti kuliah Subuh ini tidak pernah berkurang sampai Ramadan. Bahkan dari masjid lain seperti dari Jabal Nur datang juga ke sini,” katanya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bahkan mulai dicontoh oleh beberapa masjid lain, meski belum dilaksanakan setiap hari.
Harapannya sederhana namun mendalam. “Mudah-mudahan menjadikan umat ini makin bertakwa, makin sadar akan pentingnya ilmu, pentingnya berjamaah, pentingnya kebersamaan,” ungkapnya.
Ke depan, ia membuka kemungkinan agar kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan saat Ramadan.
“Mungkin bukan hanya di momen Ramadan, tapi akan kami evaluasi dulu. Di luar Ramadan pun kemungkinan ada momen-momen tertentu kita adakan hal-hal yang positif seperti itu,” tambahnya.
Pagi kian terang. Satu per satu jamaah meninggalkan masjid, kembali ke rumah, ke pasar, atau bersiap menuju aktivitas harian. Namun kuliah Subuh itu meninggalkan jejak yang tidak kasatmata. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap perintah Allah tersimpan janji yang pasti ditepati.
Di Masjid Nurul Iman Waiwerang, Ramadan tidak sekadar bulan ibadah. Ia menjadi ruang belajar tentang taat tanpa syarat, tentang yakin tanpa ragu, dan tentang istiqamah yang terus dijaga, bahkan ketika bulan suci telah usai. *
Penulis adalah Mahasiswa Semester V Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar
Editor : Wentho Eliando










