Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM) - FloresPos Net

Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM)

- Jurnalis

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

DI bawah pendar lampu neon yang dingin dan deru mesin pendingin yang tak pernah lelap, sebuah drama perampasan halus sedang dipentaskan di balik senyum seragam para pramuniaga ritel modern.

Di gerai seperti Indomaret, Alfamart, atau apotek K24, sedang berlangsung sebuah praktik yang saya sebut sebagai “Kediktatoran Receh”. Inilah sebuah ruang remang di mana kedaulatan konsumen luruh dan hak finansial kita dipaksa menyerah meski hanya Rp500 atau Rp1.000 melalui jerat permenisasi, vitaminisasi, atau donasi sepihak yang manipulatif.

Banyak yang menganggap hal ini sepele, namun jika kita bedah secara jujur, ini adalah bentuk perampasan hak konsumen. Sebuah “korupsi mikro” yang jika dikalikan jutaan transaksi akan menjelma menjadi gunung keuntungan bagi korporasi.

Setiap kali kasir menyodorkan permen atau vitamin sebagai pengganti uang kembalian tanpa izin, mereka sebenarnya sedang melakukan transaksi paksa. Mengapa? Saya membeli barang yang saya butuhkan, bukan untuk membeli stok permen atau vitamin yang sedang ingin mereka cuci gudangkan.

Baca Juga :  Bara Ketidakpuasan untuk Demokrasi yang Bertopeng

Secara hukum, praktik ini adalah penghinaan terhadap kedaulatan mata uang. UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang secara eksplisit melarang penggunaan barang sebagai alat tukar.

Namun, perusahaan-perusahaan raksasa ini seolah merasa “terlalu besar untuk patuh pada hukum” (too big to obey), sehingga mereka menciptakan hukum rimba sendiri di meja kasir. Mengapa praktik ini begitu masif?

Dari perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), ini adalah bukti adanya malpraktik yang disengaja di mana perusahaan menerapkan ‘Desain Pekerjaan’ (Job Design) yang menekan kasir melalui kebijakan ‘Zero Variance’ atau kewajiban nombok jika kas kurang.

Namun, di sisi lain sengaja membiarkan logistik uang receh terbengkalai. Akibatnya, kasir dididik menjadi “mesin pembohong” yang terlatih. Mereka tidak lagi diajarkan untuk melayani, melainkan diajarkan teknik ‘social engineering’ untuk membungkam keberatan konsumen melalui kalimat “Mau didonasikan?” yang bukan lagi bentuk filantropi, melainkan pemerasan psikologis yang menempatkan konsumen pada posisi sulit: menolak berarti dianggap kikir, menerima berarti membiarkan diri dirampok.

Baca Juga :  Masyarakat Adat Setempat Percaya Ada Peristiwa yang Terjadi Pasca Danau Kelimutu Berubah Warna

Mari kita bicara angka dengan lebih dalam. Jika sebuah jenama memiliki 20.000 gerai dan setiap gerai “menilap” Rp500 dari 100 orang per hari, mereka meraup Rp1 Miliar per hari atau Rp365 Miliar per tahun dari uang kembalian pelanggan.

Ke mana uang ini pergi? Jika dialirkan sebagai donasi, maka korporasi mendapatkan nama baik (corporate branding) menggunakan uang kita, bukan uang mereka, yang merupakan sebuah pencurian reputasi.

Berita Terkait

LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang
Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi
Berita ini 59 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:32 WITA

LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:49 WITA

Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

Senin, 6 Juli 2026 - 12:14 WITA

Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Stikes St.Elisabeth Keuskupan Maumere Masih Buka Pendaftaran

Sabtu, 11 Jul 2026 - 19:02 WITA