Pengembangan komoditas lokal seperti porang, hortikultura, kopi, dan tanaman produktif lainnya harus digarap secara profesional dan masif.
Jika sektor kemandirian ekonomi ramah lingkungan ini diperkuat melalui sinergi antara Gereja, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat adat, umat tidak akan lagi terpaksa menggantungkan hidupnya pada industri ekstraktif yang destruktif seperti pertambangan.
Menjaga Rumah Bersama
Pada akhirnya, polemik tambang di Jengkalang-Manggarai menjadi batu ujian bagi kematangan moral kita semua.
Keberhasilan pembangunan suatu daerah tidak boleh lagi diukur secara kerdil melalui angka-angka keuntungan ekonomi jangka pendek yang hanya dinikmati oleh segelintir elite. Kita wajib menghitung kalkulasi risiko eksistensialnya. Menghancurkan alam demi kemakmuran semu hari ini adalah tindakan bunuh diri bagi generasi esok.
Dalam terang Laudato Si’, mari kita pandang bumi Jengkalang bukan sebagai jarahan yang siap dikuras habis, melainkan sebagai tanah titipan yang suci.
Gereja lokal dipanggil untuk terus mengasah suara kenabiannya—bukan untuk memihak secara buta, melainkan untuk tegak berdiri di atas pilar keadilan yang memanusiakan manusia dan memuliakan ciptaan.
Hanya dengan komitmen yang berimbang, jujur, dan berani inilah, masa depan Manggarai yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan dapat benar-benar diwujudkan. *
Editor : Wall Abulat










