Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si - FloresPos Net - Page 3

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengembangan komoditas lokal seperti porang, hortikultura, kopi, dan tanaman produktif lainnya harus digarap secara profesional dan masif.

Jika sektor kemandirian ekonomi ramah lingkungan ini diperkuat melalui sinergi antara Gereja, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat adat, umat tidak akan lagi terpaksa menggantungkan hidupnya pada industri ekstraktif yang destruktif seperti pertambangan.

Menjaga Rumah Bersama

Pada akhirnya, polemik tambang di Jengkalang-Manggarai menjadi batu ujian bagi kematangan moral kita semua.

Baca Juga :  Rasio vs Emosi: Menyikapi Narasi "Darurat 7 Hari"

Keberhasilan pembangunan suatu daerah tidak boleh lagi diukur secara kerdil melalui angka-angka keuntungan ekonomi jangka pendek yang hanya dinikmati oleh segelintir elite. Kita wajib menghitung kalkulasi risiko eksistensialnya. Menghancurkan alam demi kemakmuran semu hari ini adalah tindakan bunuh diri bagi generasi esok.

Dalam terang Laudato Si’, mari kita pandang bumi Jengkalang bukan sebagai jarahan yang siap dikuras habis, melainkan sebagai tanah titipan yang suci.

Baca Juga :  Antara Lari 5 Menit, Slot Judol dan Etika Pejabat

Gereja lokal dipanggil untuk terus mengasah suara kenabiannya—bukan untuk memihak secara buta, melainkan untuk tegak berdiri di atas pilar keadilan yang memanusiakan manusia dan memuliakan ciptaan.

Hanya dengan komitmen yang berimbang, jujur, dan berani inilah, masa depan Manggarai yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan dapat benar-benar diwujudkan. *

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 314 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru

Advertorial

POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar

Senin, 21 Sep 2026 - 20:11 WITA