Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi - FloresPos Net

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

- Jurnalis

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Djoko Setijowarno

PADA perayaan HUT ke-81 RI, 17 Agustus 2026 lalu, sebuah pesan tersirat bergaung dari dataran tinggi Krayan, Kalimantan Utara. Masyarakat adat Dayak Lundayeh mengibarkan bendera Dayak Borneo di bawah bendera Merah Putih sebagai simbol kesetiaan pada NKRI yang berpadu dengan jeritan hati menuntut keadilan infrastruktur.

Tinggal di beranda terdepan negara, warga Krayan hingga kini masih terisolasi oleh bentang alam yang ekstrem.

Saat slogan “membangun dari pinggiran” sering dikumandangkan, realitas di lima kecamatan Krayan justru menampilkan sebuah ironi, sebuah wilayah perbatasan strategis yang urat nadi kehidupannya nyaris lumpuh setiap kali musim hujan tiba.

Baca Juga :  Gerakan Buruh dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Krayan adalah daerah dataran tinggi, sehingga perahu motor tidak akan sampai. Pasalnya aliran sungainya kecil. Jalan provinsi yang akan terhubung ke jalan nasional pararel perbatasan belum menampakan hasilnya.

Wilayah Krayan berada di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara yang terbagi lima kecamatan. Di Krayan terdapat lima bandara perintis.

Baca Juga :  Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF)

Keberadaan lima bandara perintis yang tersebar di wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, merupakan urat nadi transportasi yang tak tergantikan.

Selain Bandara Yuvai Semaring (Long Bawan) di Kecamatan Krayan yang menjadi gerbang utama menuju Tarakan, Nunukan, dan Malinau, kawasan ini juga ditopang oleh Bandara Long Layu di Krayan Selatan, Bandara Binuang di Krayan Tengah, Bandara Banten/Long Midang di Krayan Barat, serta Bandara Long Umung di Krayan Timur.

Berita Terkait

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Berita Terbaru