Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi - FloresPos Net - Page 3

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

- Jurnalis

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jalan provinsi yang dirancang untuk menghubungkan kecamatan-kecamatan di Krayan menuju Jalan Paralel Perbatasan maupun arah Malinau belum tuntas dan belum bersambung secara optimal.

Sifat jalan yang rapuh dan belum teraspal/terbeton ini yang memicu tingginya biaya logistik, kelangkaan bahan pokok, serta memaksa warga di setiap kecamatan bergantung sepenuhnya pada moda transportasi udara perintis.

Tanah longsor yang dipicu intensitas hujan tinggi pada Selasa (7/7/2026) masih melumpuhkan akses darat menuju Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Baca Juga :  Solidaritas Kemanusiaan versus Urgensitas Manajemen  Kesiapsiagaan Bencana 

Pemerintah menetapkan tanggap darurat sambil terus mengirim bantuan kepada warga yang terisolasi (Kompas.id, 27/07/2026).

Data dari Kementerian PUPR (2024), panjang jalan paralel perbatasan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) adalah 614,55 kilometer, yang merupakan bagian dari total jaringan jalan perbatasan di wilayah tersebut yang mencapai 992,35 kilometer (termasuk jalan akses perbatasan sepanjang 377,8 kilometer).

Baca Juga :  Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan

Ruas Long Boh–Long Metulang 114,13 km, ruas Long Metulang– Long Nawang 48 km, ruas Long Nawang–Long Pujungan 219,14 km, ruas Long Pujungan–Long Kemuat 60,71 km, ruas Long Kemuat–Langap 114,85 km dan ruas Langap–Malinau 57,75 km.

Di kawasan Krayan terdapat 1 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang dibangun oleh Kementerian PUPR, yaitu PLBN Terpadu Long Midang (Kecamatan Krayan Barat) berbatasan langsung dengan Bakelalan, Sarawak (Malaysia).

Berita Terkait

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Berita Terbaru