Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi - FloresPos Net - Page 6

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

- Jurnalis

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akses darat menuju Malinau yang belum memadai dan sulit dilalui angkutan barang memaksa daerah ini bergantung sepenuhnya pada jalur udara.

Ketergantungan pada pesawat kargo, baik yang disubsidi maupun komersial dengan ruang muat terbatas secara langsung memicu melonjaknya harga bahan pokok, BBM, hingga material bangunan jauh di atas rata-rata kawasan perkotaan di Kalimantan Utara.

Kedua, ketergantungan ekonomi yang kuat pada Sarawak (Malaysia).Kedekatan geografis antara Krayan dan Bakelalan menjadikan akses perbatasan jauh lebih mudah dijangkau.

Baca Juga :  Goodbye Roma Welcome Sikka Bangkit

Saat pasokan logistik dalam negeri tersendat akibat jaringan darat dan udara yang belum optimal, warga memilih memenuhi kebutuhan sembako dari Malaysia.

Kondisi ini juga berdampak pada komoditas unggulan seperti Beras Adan Krayan dan Garam Gunung. Karena tingginya ongkos angkut menuju pasar nasional, para petani dan produsen lokal lebih banyak melempar hasil panen mereka ke pasar perbatasan Malaysia.

Ketiga, tantangan berat pada layanan kesehatan dan evakuasi darurat. Bagi pasien kritis yang butuh rujukan cepat ke Rumah Sakit Tipe B/C di Malinau, Nunukan, atau Tarakan, pesawat udara menjadi satu-satunya tumpuan.

Baca Juga :  Menuju MUSPAS IX KAE: Dari Budaya Keprihatinan Menuju Budaya Harapan

Sayangnya, proses evakuasi medis sering terhenti akibat cuaca buruk atau minimnya armada yang siap terbang. Masalah tak berhenti di situ; distribusi obat-obatan dan alat kesehatan ke puskesmas pun sering terhambat setiap kali pasokan udara mengalami kendala operasional.

Berita Terkait

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Berita Terbaru