Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi - FloresPos Net - Page 7

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

- Jurnalis

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keempat, tingginya kerentanan ketahanan pangan dan ketersediaan BBM.Belum tersambungnya jalur darat Malinau–Krayan membuat pengiriman bahan bakar sepenuhnya mengandalkan pesawat kargo berspesifikasi drum.

Ketergantungan tunggal ini sangat berisiko; begitu cuaca buruk melanda berhari-hari atau terjadi masalah operasional pada armada udara, pasokan energi di wilayah perbatasan langsung terhenti dan kelangkaan BBM tak terhindarkan.

Kelima, tingginya ongkos dan terbatasnya akses pendidikan.Bagi anak-anak sekolah dan mahasiswa setempat yang hendak menuntut ilmu ke tingkat menengah atau perguruan tinggi di Malinau, Tarakan, hingga Jawa, biaya penerbangan menjadi beban yang sangat berat.

Baca Juga :  Menjamah yang Terluka

Tak hanya bagi peserta didik, tantangan geografis ini juga memicu hambatan teknis pada mobilisasi tenaga pengajar serta pengiriman fasilitas dan alat penunjang belajar-mengajar.

Penuntasan konektivitas darat Malinau–Krayan melalui Jalan Paralel Perbatasan adalah kunci utamanya.

Baca Juga :  Perspektif Komunikasi dalam Menjembatani Kesenjangan Pemerataan Pendidikan

Peningkatan kualitas jalan dari tanah menjadi aspal atau beton tidak hanya akan memangkas tingginya biaya logistik, tetapi juga menjadi fondasi penting untuk membebaskan warga perbatasan dari ketergantungan ekonomi asing sekaligus mengokohkan kedaulatan NKRI.

Catatan penutup

Segala dampak multidimensional di atas bermuara pada satu urgensi utama, kedaulatan di beranda negara tidak bisa hanya dijaga dengan retorika, melainkan dengan aspal dan beton.

Berita Terkait

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Berita Terbaru