“Berbagai praktik baik telah muncul dari enam desa dampingan Program We for JET di Flores Timur,” ujarnya.
Melki mengakui, perempuan mulai terlibat aktif dalam pengambilan keputusan terkait penggunaan energi terbarukan, mengembangkan usaha berbasis kelapa, memanfaatkan Rumah Energi Matahari (REM) untuk produksi kopra putih.
Mereka juga mengolah limbah tempurung kelapa menjadi briket ramah lingkungan, melakukan penanaman kembali pohon kelapa untuk mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan, serta memperkuat tata kelola keuangan melalui kelompok Savings and Internal Lending Communities (SILC).
Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas.
Bebas Dari Jeratan Rentenir
Uang dari hasil penjualan kopra dan arang ditabung di kelompok. Hari minggu semua anggota kelompok berkumpul dan menyetorkan uang tabungan dengan jumlah bervariasi.
“Semua anggota pun bisa meminjam uang dan sekali pinjam hanya kena bunga Rp50 ribu,” ujar Mama Rina.
Dirinya mengakui berkat adanya kelompok simpan pinjam yang dinamakan SILC, para petani bisa membeli berbagai kebutuhan dan menyekolahkan anak tanpa berhutang di lembaga keuangan.
Terbentuknya kelompok simpan pinjam di desa juga merupakan bagian dari program YPPS di kelompok dampingan. Usaha simpan pinjam ini dinamakan Saving Internal Landing Community (SILC).
Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Melki Koli Baran menjelaskan, SILC merupakan sistem simpan pinjam yang lebih adil. YPPS pun tidak memberikan modal untuk membuat kelompok SILC.
Melki mengatakan, semua anggota bersepakat menentukan kapan waktu dalam seminggu untuk berkumpul dan menyetorkan simpanan. Setelah selesai siklus tahunan sesuai kesepakatan semua anggota maka dana yang tersimpan pun dibagi.
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










