Oleh: Ebed de Rosary
HAMPARAN kebun jambu mete dan kelapa mulai terlihat saat memasuki wilayah Desa Bantala. Desa yang lebih terkenal dengan sebutan Lewotala ini hanya berjarak sekitar 30 kilometer, sebelah barat Kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flores Timur.
Desa ini memiliki kelompok usaha kopra, briket dari tempurung kelapa serta usaha simpan pinjam yang anggotanya mayoritas perempuan. Terdapat juga difabel yang aktif bekerja bersama anggota kelompok lainnya.
Komunitas Wolosina Watoboki merupakan sebuah komunitas perempuan yang pertama di bentuk di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Komunitas ini berhasil memanfaatkan Rumah Energi Matahari (REM) untuk mengolah kopra putih dan mengeringkan briket tempurung kelapa, sehingga mendorong transisi energi yang ramah lingkungan.
Inovasi ini meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, serta kesejahteraan masyarakat, sehingga layak menjadi inspirasi bagi desa lain.
Desa Bantala merupakan salah satu desa yang petaninya banyak memiliki tanaman kelapa. Kelapa dahulunya dibelah dan dijadikan kopra dengan menjemurnya di halaman rumah.
“Kelapa yang sudah dibelah dijemur di halaman rumah dengan menggunakan terpal. Untuk bisa jadi kopra kami sangat bergantung kepada panas matahari,” sebut Elisabet Fuer, Ketua Kelompok Wolosina Watoboki saat disambangi, Senin (29/6/2026).
Elisabet berceritera,mereka harus selalu menjaga kelapa yang dijemur sebab takutnya dimakan ternak peliharaan. Saat mendung, mereka harus bergegas mengangkat kelapa agar tidak basah terkena hujan.
Dirinya mengenang, tahun 2023 Program Women Empowerment for Just Energy Transition (We for JET) yang dilaksanakan oleh Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) masuk ke desanya.
Direktur YPPS Melky Koli Baran menyebutkan, dalam program ini YPPS bekerja sama dengan Oxfam dan Penabulu, mendorong perempuan menjadi aktor utama dalam pengembangan ekonomi hijau dan energi terbarukan di tingkat komunitas.
Editor : Wentho Eliando










