Melki menyebutkan, program ini membangun kapasitas perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan melalui pendekatan “Sekolah Kelapa” dan penguatan usaha produktif.
“Kami melakukan pengembangan teknologi tepat guna berbasis energi terbarukan, serta penguatan kepemimpinan dan pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga maupun komunitas,” ujarnya.
Rumah Penjemuran Gunakan Energi Matahari
Kabupaten Flores Timur memiliki sumber daya kelapa yang telah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, baik sebagai sumber pangan, ekonomi, maupun energi.
Namun, menurunnya nilai ekonomi komoditas kelapa, berkurangnya perawatan kebun, serta meningkatnya ketergantungan pada energi berbahan bakar fosil telah menimbulkan berbagai tantangan bagi keberlanjutan ekonomi dan ekosistem lokal.

Di sisi lain, YPPS melihat, kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai basis ekonomi hijau yang mendukung transisi energi melalui pengolahan kopra putih.
“Kami mendorong pemanfaatan energi surya, pengembangan briket tempurung kelapa, serta usaha-usaha produktif berbasis sumber daya lokal,” ucap Melki.
Desa Bantala memiliki 2 rumah jemur dan satunya lagi sedang dibangun. Rumah jemur baru bangun tersebut milik 7 anggota kelompok hasil pemekaran.
Koordinator Kelompok Wolosina Watoboki Remigius Pelan Liwun menyebutkan, satu rumah jemur dibangun berukuran 4×7 meter dan ada 2 lagi berukuran lebih kecil disesuaikan dengan lokasinya.
Rumah jemur dibuat dari kayu balok yang berasal dari batang kelapa berbentuk setengah lingkaran. Bagian dalamnya dibuat rak untuk menaruh kelapa di bagian tengah dan kedua sisi paling kiri dan kanan.
Rak dibuat dua tingkat menggunakan bambu belah sebagai tempat untuk meletakan kelapa yang akan dijemur. Atapnya ditutupi plastik UV (Ultra Violet) berwarna bening atau putih susu.Sementara lantainya disemen atau dilapisi kerikil.
Editor : Wentho Eliando










