“Atap menggunakan plastik UV yang dicampur atau dilapisi dengan bahan khusus untuk menyerap sinar matahari,” sebut Remigius.
Antara rak di bagian tengah dan rak di kedua sisinya disisahkan ruang untuk jalan agar memudahkan saat berlalu lalang melakukan pengangkutan kelapa untuk dijemur dan sudah selesai dijemur dan siap dicungkil menjadi kopra.
Elisabet mengakui, dengan menggunakan rumah jemur, dirinya bisa memiliki banyak waktu luang untuk beraktifitas lain karena tidak kuatir kelapa terkena hujan atau dimakan ternak.
Rumah jemur dibuatkan pintu sehingga bila tidak dipergunakan, pintunya akan ditutup. Untuk mempercepat proses pengeringan kelapa menjadi kopra, saat malam hari pemanasan dibantu dengan membakar belerang di dalam rumah jemur agar suhu di dalam ruangan tetap panas.
“Kalau pakai rumah jemur kelapa aman dari gangguan hewan daa lainnya sehingga kita bisa kerja yang lain. Kalau jemur di luar, kita harus jaga apalagi saat hujan. Kalau panas mencukupi, 4 atau 5 hari kelapa sudah bisa menjadi kopra putih dan dicungkil untuk dijual,” ungkapnya.
Produksi kopra putih pertama bulan Desember tahun 2023 sebanyak 1,3 ton seharga Rp8,7 juta.Harga jual bervariasi antara Rp9 ribu hingga Rp12 ribu per kilogramnya.
Empat buah kelapa berukuran kecil bisa menghasilkan satu kilogram kopra putih sementara kelapa ukuran besar satu kilogramnya butuh tiga buah kelapa.
Meski kualitasnya kopra putih namun harga jualnya tidak lebih baik. Produksi yang masih terbatas dan pembeli yang tidak pasti, membuat kopra yang diproduksi pun dijual ke penampung dengan harga yang lebih murah.
“Saya punya bisa dapat 200 kilogram sampai 300 kilogram sekali produksi. Saat ini harga jual kopra Rp10.500 di penampung padahal kopra kami dijemur di dalam rumah penjemuran,” tutur Regina Ule Azi, Bendahara Kelompok Wolosina Watoboki.
Regina katakan,setiap malam mereka harus membakar belerang dan dilatakan di dalam rumah penjemuran agar suhu di dalamnya tetap panas sehingga kopra tidak berjamur.
Editor : Wentho Eliando










