Ia menjelaskan, kalau kadar airnya 0.5 maka kopra sudah kering sehingga bakteri atau jamur tidak tumbuh di kopra. Meski produksi mereka sesuai standar kopra putih tetapi harga jualnya sama saja dengan kopra biasa atau kopra asalan.
“Makanya kami jemur tidak sampai standar kadar airnya 0.5 karena rugi. Kalau kadar airnya 0,5 maka waktu penjemurannya lebih lama. Sekali penjemuran di dalam rumah jemur bisa mencapai 3 ton,” ungkapnya.
Membuat Arang dan Briket
Kelompok Wolosina Watoboki beranggotakan 15 orang. Terdapat 4 oang laki-laki sementara sisanya perempuan. Pengurusnya semua perempuan karena sejatinya kelompok ini merupakan kelompok perempuan.
Dalam kelompok ini terdapat 4 orang difabel yang merupakan anak dari anggota kelompok. Saat orang tuanya absen, merreka menggantikan peran orang tua mereka bekerja bersama dalam kelompok.

Pekerjaan mengupas kelapa, menjemurnya di dalam rumah jemur hingga mencungkilnya untuk dijadikan kopra dilakoni bersama semua anggota kelompok.
Setelah dikupas, kelapa dibelah menjadi dua bagian lalu dijemur di dalam rumah penjemuran hingga menjadi kopra.
“Ada difabel juga 4 orang dan mereka juga ikut bantu panjat kelapa, kupas jemur sampai cungkil. Laki-laki ada 3 orang dan 1 orang perempuan. Mereka tidak sekolah dan ada yang usianya 30 tahun,” papar Elisabet.
Sabuk kelapa untuk saat ini belum diolah menjadi bahan setengah jadi. Rencananya mau dijual ke pabrik di Kota Maumere namun harga jualnya tidak sebanding dengan ongkos transportasi dan bisa dikatakan rugi sehingga hanya dibiarkan saja hingga kering.
Sementara tempurung kelapa diolah menjadi arang dan briket, Tempurung Dibakar di drum menjadi arang lalu digiling menggunakan mesin menjadi tepung arang. Untuk membuat briket, satu kilogram tepung arang dicampur dengan kanji 0,8 kilogram.
“Adonan diaduk hingga merata lalu dimasukan ke dalam cetakan.Setelah kering, briket sudah bisa dipergunakan untuk bahan bakar pengganti kayu api atau minyak tanah yang selama ini kami gunakan,” ujar Regina.
Editor : Wentho Eliando










