Makanya YPPS kata Melki memfasilitasi pembentukan SILC di desa-desa dampingan program ini. YPPS tidak memberikan modal untuk SILC sebab modalnya harus dari anggota.
Penghasilan harian dari anggota disimpan lalu seminggu sekali ditabung.Besaran simpanan setiap anggota berbeda-beda tergantung pendapatan masing-masing.
Moto SILC, mengubah recehan jadi puluhan, puluhan jadi ratusan, ratusan jadi jutaan dan jutaan jadi aset. Jadi setiap anggota SILC harus punya impian saat tutup siklus nanti itu dia harus punya aset apa.
Satu siklus tabungan bisa mencapai 9 bulan atau 12 bulan tergantung kesepakatan anggota.
Mama Elisabet mengaku memiliki 3 orang anak yang kuliah. Dua anaknya sudah tamat S2 dan bekerja sementara anak perempuannya baru lulus kuliah.Untuk membiayai kuliah,dia bahkan harus berhutang uang di bank.
Ia mengaku apabila dulunya sudah ada SILC maka dirinya tidak kesulitan uang membayar kuliah anaknya. Dari hasil tabungan di SILC ia sudah bisa membeli kulkas,mesin cuci,sofa dan perlengkapan rumah tangga lainnya.
Regina memaparkan,di Desa Bantala terdapat 7 kelompok SILC dengan jumlah anggota bervariasi dan merupakan kelompok SILC terbanyak dari desa-desa lain yang merupakan dampingan YPPS.
Untuk kelompok Wolosina Watoboki, jumlah anggota SILC mencapai 20 orang. Untuk tutup buku siklus pertama dan kedua waktunya 9 bulan siklus ketiga waktunya 12 bulan.
Setiap kali tutup buku, uang simpanan anggota dikembalikan kepada anggota dengan jumlah sesuai simpanan per minggunya. Anggota juga bisa meminjam uang tabungan kelompok dengan bunga Rp50 ribu sekali pinjam.
Regina memaparkan, siklus pertama jumlah uang yang terkumpul dan dibagikan mencapai Rp56 juta dan siklus kedua Rp100 juta lebih. Siklus ketiga sedang berjalan dan jumlah simpanan sudah mencapai Rp76 juta.
Editor : Wentho Eliando










