Dalam sehari bisa dihasilkan 10 kg briket sebab pekerjaannya dilakukan secara manual. Mesin pengolah arang menjadi tepung harus digunakan secara manual dan produksinya terbatas.
Regina mengaku memiliki 300 kg briket yang dia pergunakan untuk memasak menggantikan kompor minyak tanah dan kayu bakar. Kompor briket dibuat sendiri oleh kelompoknya.
“Pernah ada pembeli dari Maumere membeli briket sampai 150 kilogram bahkan ada yang sampai satu ton. Tapi sekarang sudah jarang yang beli sehingga kami pergunakan sendiri untuk memasak di rumah,” ujarnya.
Regina mengaku setelah menggunakan kompor berbahan bakar briket dari tempurung kelapa, ia bisa menghemat uang untuk membeli minyak tanah atau menghemat waktu mencari kayu bakar di kebun.

Dapur rumahnya pun lebih bersih dan terbebas dari asap. Selain itu peralatan memasak pun bisa lebih bersih.
Manfaat Kelompok Simpan Pinjam
Selain mengolah kelapa menjadi kopra dan briket, kelompok Wolosina Watoboki juga memiliki jenis usaha simpan pinjam yang dinamakan Savings and Internal Lending Communities (SILC).
SILC adalah pendekatan simpan pinjam berbasis masyarakat yang sering kali diperkenalkan dan didampingi oleh jaringan Caritas bersama dengan Catholic Relief Services (CRS).
Program ini bertujuan untuk membangun kemandirian ekonomi, khususnya bagi kelompok rentan atau yang terpinggirkan dari sistem perbankan formal.
Melki menjelaskan, setelah YPPS mempelajari, ternyata cocok dengan daerah NTT karena masyarakatnya banyak yang memiliki penghasilan harian.
“Penghasllannya kalau tidak ditabung maka habis. Kalau mau tabung juga penghasilannya recehan jadi mau bawa ke bank susah,” tuturnya.
Editor : Wentho Eliando










