BAJAWA, FLORESPOS.net-Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memulai riset di Kawasan Transmigrasi Bajawa, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
TEP dari ITB yang merupakan tim pertama dengan Output 1, yang Pimpinan TEP dari ITB Output 1 Dr. Getbogi Hikmawan, S.Si., M.Si., kepada Florespos.net, Selasa (9/9/2025) per telepon menjelaskan tim TEP ITB di telah memulai kegiatan di Kabupaten Ngada.
Kegiatan yang dilakukan merupakan bagian penting dari Program Transmigrasi Patriot, sebuah inisiatif strategis yang digagas untuk mewujudkan kawasan transmigrasi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.
Program Transmigrasi Patriot merupakan salah satu program unggulan Kementerian Transmigrasi yang berfokus pada peningkatan keberadaan dan peran sumber daya manusia unggul sebagai bagian dari Transformasi Transmigrasi.
Kementerian Transmigrasi bermitra dengan Perguruan Tinggi untuk melakukan pemetaan potensi, riset sosial-ekonomi, serta perancangan model pembangunan berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi.
Tim Ekspedisi Patriot tiba di Bajawa pada 31 Agustus 2025 dan mengikuti apel gabungan di Kantor Bupati Ngada pada 1 September 2025. Selanjutnya melakukan rapat koordinasi bersama Pemda Ngada.
Tim ini terbagi menjadi dua kelompok, tim pertama dengan Output 1, yang dipimpin oleh Dr. Getbogi Hikmawan, S.Si., M.Si., dengan Tema “Rekomendasi Evaluasi untuk Kawasan Transmigrasi” dan tim kedua dengan Output 2, yang dipimpin oleh Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., dengan output “Desain Pengembangan Komoditas Unggulan Spesifik”.
Dalam rapat koordinasi bersama Pemda Ngada dijelaskannya bahwa dirinya menyampaikan peran dari tim I.
“Riset tim kami berfokus untuk melakukan kajian dan evaluasi secara mendalam terhadap kawasan transmigrasi Bajawa. Kegiatan ini merupakan langkah awal yang krusial bagi pengembangan Kawasan Transmigrasi,” jelasnya.
Tim TEP ITB berada di Bajawa hingga Desember 2025, untuk menjalankan rangkaian kegiatan yang komprehensif, mulai dari identifikasi potensi dan tantangan, pemetaan spasial wilayah, dan evaluasi kawasan transmigrasi dalam rangka pengembangan kawasan transmigrasi.
Tim 1 beranggotakan Dr. Getbogi Hikmawan, S.Si., M.Si. (Ketua Tim), Maria Dolorosa Bhebhe, S.T., M.P.W.K., Isnaini M. S.Si ., Artanti Mirta Kusuma, S.T., dan Syalwa Putria Kurniawati, S.Si.
Seluruh anggota tim akan berkolaborasi dengan stakeholders terkait secara intensif hingga Desember 2025.
Dalam pelaksanaannya, Tim 1 memiliki peran mendasar untuk menggali kondisi aktual kawasan secara menyeluruh, baik dari aspek sosial, ekonomi, kelembagaan, layanan dasar dan ekologi.
Hasil kerja Tim ini akan menjadi landasan dalam perancangan tata kelola kolaboratif dan pembentukan korporasi masyarakat pada beberapa tahap selanjutnya.
Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan ini dituntut untuk mengedepankan pendekatan yang partisipatif, berbasis data, serta mampu menangkap kompleksitas dinamika lokal dengan cara yang reflektif dan transformatif.
Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran lintas sektor, besar harapan kami agar Ekspedisi Patriot 2025 dapat menjadi langkah awal yang kokoh dalam membangun model pembangunan kawasan berbasis masyarakat.
Penerapan konsep saintek sejalan dengan program transmigrasi yang berorientasi pada pengembangan industrialisasi berbasis potensi lokal.
Rangkaian kegiatan tim Output 1 didesain dalam beberapa tahapan. Tahapan awal dimulai dengan pelaksanaan survei pendahuluan serta pemetaan lapangan, yang difokuskan pada tiga kecamatan utama di Kabupaten Ngada, yaitu Kecamatan Bajawa Utara, Kecamatan Riung Barat, dan Kecamatan Aimere.
Sebagai langkah awal, tim telah melakukan kunjungan ke ketiga lokasi tersebut untuk pra survei (rona awal) dan delineasi wilayah perencanaan sekaligus menjalin komunikasi awal dengan tokoh masyarakat, transmigran dan penduduk.
Dari hasil identifikasi awal, tim memperoleh temuan potensi kawasan yang cukup strategis untuk dilakukan pengembangan. Pada umumnya tantangan di tiga kawasan transmigrasi terkait keterbatasan dalam penyediaan infrastruktur layanan dasar.
Namun demikian, temuan ini masih bersifat indikatif dan perlu diverifikasi lebih mendalam. Oleh karena itu, tim merencanakan untuk melakukan survei lanjutan dalam beberapa minggu kedepan dengan observasi lapangan, wawancara serta diskusi langsung bersama transmigran dan penduduk lokal serta pemangku kepentingan.
Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih detail mengenai kondisi kawasan. Hasil dari survei lapangan menjadi landasan utama dalam merumuskan kajian dan strategi pengembangan di kawasan transmigrasi Bajawa.
Berdasarkan temuan data lapangan, diharapkan setiap rekomendasi yang dihasilkan dapat selaras dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung pengembangan Kawasan Transmigrasi Bajawa.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Ngada, diharapkan program ini mampu mendukung transformasi transmigrasi.
Kehadiran TEP ITB diharapkan tidak hanya memberikan rekomendasi evaluasi kawasan transmigrasi, tetapi juga mendukung perancangan model pembangunan berkelanjutan di Kawasan Transmigrasi. *
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando










