Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan - FloresPos Net

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Djoko Setijowarno

SEBAGAI negara kepulauan terbesar di dunia, keberlanjutan konektivitas laut bukan sekadar masalah transportasi, melainkan urat nadi kehidupan sosial, ekonomi, hingga keselamatan masyarakat di wilayah pesisir dan terdepan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2025), Indonesia memiliki 17.830 pulau dengan jumlah penduduk mencapai 284,4 juta jiwa.

Lima provinsi dengan pulau terbanyak secara berurutan adalah Papua Barat (4.520 pulau), Kepulauan Riau (2.028 pulau), Sulawesi Tengah (1.572 pulau), Maluku (1.388 pulau), dan Maluku Utara (901 pulau).

Baca Juga :  Karakter Terancam, Relasi Memudar, Kembali Memperkuat Pendidikan

Sementara itu, Provinsi Nusa Tenggara Timur berada di urutan keenam dengan 609 pulau. Keberadaan transportasi perairan di wilayah kepulauan ini terbukti sangat vital.

Sebagai contoh, Pulau Palue di Kabupaten Sikka, NTT, yang sempat terdampak bencana gempa bumi. Layanan kapal penyeberangan perintis ke pulau ini sempat dihentikan oleh Kementerian Perhubungan pada awal Juli dengan alasan keterbatasan dan penghematan anggaran.

Baca Juga :  Logistik Perintis Lumpuh, Program Strategis Nasional MBG dan KDMP Terancam Gagal

Namun, setelah Pemerintah Provinsi NTT mengajukan keberatan resmi, layanan angkutan penyeberangan perintis tersebut akhirnya kembali dioperasikan sejak 20 Juli 2026.

Pada tahun 2027, pemerintah mengalokasikan anggaran konektivitas yang terbagi dalam dua sektor utama.

Berita Terkait

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores
Transportasi Publik sebagai Jaring Pengaman Ekonomi Kawasan Selatan Subosukawonosraten
Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 11:02 WITA

Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan

Minggu, 13 September 2026 - 21:30 WITA

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 September 2026 - 18:35 WITA

Bersyukur di Tengah Bencana: Menemukan ‘Rumah Sejati’ dan Pengharapan Pasca Gempa Flores

Sabtu, 12 September 2026 - 12:58 WITA

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Gempa Flores, SDN Kaburea di Nagekeo KBM di Bawah Tenda Mandiri

Senin, 14 Sep 2026 - 10:02 WITA

Opini

Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing

Minggu, 13 Sep 2026 - 21:30 WITA