Kisah benturan seperti di atas nampak sebagai suatu sandiwara besar, yang episodenya selalu dipentaskan dalam setiap dekade sejarah bangsa ini. Kisahnya tentu sangat tidak menarik lagi dan sangat boleh jadi kita semua bosan padanya. Karena sudah bukan rahasia lagi bahwasanya setiap perjuangan yang berlandaskan kebenaran dan keadilan mengandung suatu permainan dari pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya.
Non Scholae Sed Vitae Discimus
Di tengah carut marutnya masalah ijazah di atas, terlintas dalam benak saya satu folosofi Bahasa Latin Non Scholae Sed Vitae Discimus (Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup).
Frasa Bahasa Latin ini berasal dari Filsuf STOA Romawi Lucius Annaneus Seneca yang awalnya menyindir kondisi pendidikan pada masanya dengan kalimat Non vitae, sed scholae discimus (kita belajar bukan untuk hidup , tetapi hanya demi sekolah). Prinsip awal ini kemudian di balik maknanya menjadi prinsip ideal pendidikan.
Filosofi ini menggarisbawahi tiga hal. Pertama, sekolah bukan sekadar nilai atau ijazah. Filosofi ini mengajarkan bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya mengejar nilai ujian, rapor, atau selembar ijazah.
Kedua, pembelajaran sepanjang hayat: ilmu yang didapatkan harus berguna, diterapkan, dan menjadi bekal untuk menghadapi tantangan serta menjalani kehidupan nyata di masyarakat.
Ketiga, Pentingnya Pendidikan karakter: proses belajar membentuk pribadi yang siap secara mental, moral dan keterampilan, bukan sekadar menghafal teori di dalam kelas.
Pendidkan karakter mengedepankan kedisiplinan, integritas dan kejujuran, gotong royong, kepedulian/berbelarasa, regiositas, dan bermartabat.
Non Scholae, Tetapi Berkualitas
Ada sejumlah pemimpin di negara ini yang tidak sekolah tinggi bahkan hanya tamat SD dan SMP (non scholae) tetapi mereka memancarkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara, dan menghidupkan aneka nilai-nilai itu.
Beberapa sosok pemimpin itu di antaranya Wakil Presiden RI Periode 1878-1983 Adam Malik.
Adam Malik yang berbekalkan tamatan Hollandsch Inlandsche School atau Sekolah Dasar pada masa penjajahan Belanda di Indonesia mengukir aneka prestasi di antaranya sebagai pendiri Kantor Berita Antara, pelopor terbentuknya ASEAN (1967); Ketua Majelis Umum PBB (1971), Ketua DPR/MPR 1977.










