Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman - FloresPos Net

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

- Jurnalis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hendrikus Maku, SVD

ENAM puluh satu tahun setelah tragedi yang melatarbelakangi Hari Kesaktian Pancasila, bangsa Indonesia tidak lagi menghadapi ancaman ideologi secara terbuka. Tantangan zaman kini hadir dalam bentuk polarisasi sosial, disinformasi digital, intoleransi, korupsi, dan menurunnya kepercayaan publik.

Di tengah situasi tersebut, Pancasila menemukan kembali maknanya sebagai kalimatun sawa’, titik temu bersama yang mempersatukan keragaman bangsa tanpa mengambinghitamkan perbedaan.

Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar momentum mengenang kemenangan ideologi negara pada masa lalu, melainkan kesempatan untuk meneguhkan kembali nilai-nilai persatuan, keadilan, dan gotong royong dalam kehidupan nyata.

Baca Juga :  Tentang Yoris Nono vs PSN Ngada: 'Terlalu Emosional Om, Saya Ambil Gambar Air Mata Mau Jatuh'

Sebab, tantangan terbesar kita hari ini, bukanlah mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, melainkan menjadikannya pedoman yang hidup dalam kebijakan dan perilaku masyarakat.

Tema Hari Kesaktian Pancasila 2026, “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, mengandung pesan penting tentang arti Pancasila sebagai kalimatun sawa’, titik temu di tengah kemajemukan Indonesia.

Sebagai bangsa yang majemuk, ada sekitar 1.340 suku dan 718 bahasa daerah, Indonesia dibangun di atas keberagaman budaya, tradisi, dan keyakinan. Karena itu, para pendiri bangsa menjadikan Pancasila sebagai kesepakatan bersama yang menaungi seluruh perbedaan dalam satu kehidupan kebangsaan.

Baca Juga :  Menagih Janji Politik Kepala Desa dan Roadmap Pengembangan Desa Golo Sengang ke Depan

Melalui Pancasila, keberagaman tidak hanya diterima sebagai kenyataan sosial, tetapi juga menjadi fondasi bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Memperkuat Kohesi Sosial di Era Digital dan Masyarakat Multikultural

Salah satu tantangan kebangsaan yang serius dewasa ini adalah menguatnya polarisasi sosial, disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, penipuan siber, serta penyalahgunaan kecerdasan buatan untuk memanipulasi informasi.

Berita Terkait

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Berita Terbaru