Data Survei Kominfo menunjukkan bahwa kapasitas digital masyarakat terus meningkat, tercermin dari skor Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 yang mencapai 43,34. Namun, peningkatan keterampilan digital belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan etika digital.
Maraknya disinformasi, penipuan daring, pelanggaran data pribadi, dan penyalahgunaan kecerdasan buatan menunjukkan bahwa penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan tanggung jawab moral serta nilai-nilai kebangsaan agar transformasi digital benar-benar membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Di sisi lain, krisis lingkungan dan perubahan iklim mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan kehidupan. Hingga akhir September 2026, Indonesia telah mengalami hampir 2.000 kejadian bencana yang berdampak pada lebih dari 5,4 juta penduduk serta merusak lebih dari 113 ribu rumah.
Pada saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius di berbagai wilayah, menunjukkan rapuhnya keseimbangan antara eksploitasi sumber daya dan kelestarian lingkungan.
Dalam perspektif Pancasila, penguasaan teknologi dan pelestarian lingkungan merupakan dua agenda yang tidak dapat dipisahkan.
Kemajuan hanya bermakna apabila inovasi, keadilan sosial, dan tanggung jawab ekologis berjalan beriringan, sehingga pembangunan tidak hanya menyejahterakan generasi kini, tetapi juga menjaga hak generasi mendatang atas lingkungan yang lestari (counter-developmentalism).
Penguatan Karakter Generasi Muda
Dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, peran generasi muda menjadi semakin strategis ketika Indonesia berada pada puncak bonus demografi.
Data SUPAS 2025 menunjukkan bahwa sekitar 68,94 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif (15-64 tahun), sebuah peluang langka yang diperkirakan berlangsung hingga sekitar 2035.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










