Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman - FloresPos Net - Page 2

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

- Jurnalis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena yang kerap ‘telanjang’ dalam momentum politik maupun interaksi sehari-hari di media sosial tersebut bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga persoalan etika dan karakter kebangsaan.

Arus informasi yang tidak terkendali dapat mempersempit ruang dialog, memperkuat prasangka, dan melemahkan kohesi sosial. Karena itu, kemajuan digital memerlukan landasan moral yang kokoh agar kebebasan berekspresi berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial.

Dalam konteks ini, Pancasila tetap relevan sebagai kompas etis yang meneguhkan nilai kemanusiaan, sikap kritis, penghormatan terhadap perbedaan, dan budaya musyawarah (bantang cama reje lele).

Baca Juga :  Pelindung Pers Katolik: Suara Kebenaran Santo Titus Brandsma

Selain itu, fenomena intoleransi di era digital terus bertransformasi dalam anea bentuk dan modus. Intoleransi tidak hanya hadir dalam bentuk ujaran kebencian, tetapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kasus pembubaran ibadah jemaat GKPI di Tangerang pada September 2026, penolakan pembangunan gereja di Surabaya, serta larangan salat Idul Fitri bagi jemaah Muhammadiyah menunjukkan bahwa ikatan sosial kita masih rapuh.

Baca Juga :  Pandangan Gereja Katolik Tentang Perkawinan Menurut Amoris Laetitia

Peristiwa-peristiwa ini menegaskan bahwa kemajuan teknologi tanpa landasan etika dan nilai kebangsaan berpotensi memperuncing polarisasi.

Bagi masyarakat multikultural seperti di Nusa Tenggara Timur, nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam berbagai praktik budaya dan kearifan lokal.

Tradisi gotong royong (kokor tago), musyawarah adat (lonto leok), dan beragam bentuk solidaritas komunitas menunjukkan bahwa semangat persatuan, toleransi, dan kerja sama bukanlah konsep yang asing.

Berita Terkait

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Berita Terbaru