Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus - FloresPos Net - Page 2

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

- Jurnalis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulisan ini hanya mau melihat aneka peran dari kelompok di atas yang bila diskenariokan dalam panggung sinetron mungkin bisa berjudul PANGGUNG SANDIWARA sembari ada selipan episode legitimasi ijazah dan filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus.

Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara. Suatu terminologi yang mengingatkan saya pada satu lagu yang menguasasi blantika musik nusantara pada era delapan puluhan hingga sembilan. Lagu Panggung Sandiwara diciptakan oleh penyair Taufik Ismail (lirik) dan Ian Antono (Musiknya) pada tahun 1977.

Lagu ini kemudian dirilis tahun 1978 dalam album jalur suara (soundtrack) film Duo Kribo. Lagu ini semakin mendunia setelah dipopulerkan oleh Ahmad Albar (God Bless) dan dilanjutkan oleh Nicky Astria pada tahun 1989.

Baca Juga :  Menemukan Wajah Kristus dalam Dialektika Hukum di Sikka

Lagu di atas semakin merasuk ke dalam hati anak negeri, tatkala pada tahun 1999 dipentaskan serial berjudul Panggung Sandiwara.

Panggung Sandiwara menjadi seri televisi Indonesia tahun 1999 produksi Persari Film yang ditayangkan perdana 16 Januari 1999 di SCTV. Serial ini dibintangi oleh Billy Boedjanger, Yuni Sulistyowati, Camelia Malik, dkk. Lagu tema pembuka seri ini bertajuk Panggung sandiwara (Ahmad Albar).

Lagu Panggung Sandiwara memiliki lirik yang mewarisi aneka pesan, demikian petikan syairnya.

Baca Juga :  Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar
Dan ada peran berpura-pura

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak
Peran bercinta bikin bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

Berita Terkait

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Berita ini 367 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Menakar Peluang dan Tantangan Kendaraan Roda Tiga di Indonesia

Sabtu, 10 Okt 2026 - 18:54 WITA