Oleh: Wentho Eliando
HAMPIR dua pekan sudah. Cuaca di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) begitu terik. Siang hari, jalan utama, khusus Kota Larantuka sedikit lebih sepi. Semua cari tempat teduh–rumah, pantai dan rindang pohon. Malam hari, cari warung kopi–duduk santai sambil diskusi. Diskusi panas, dingin, heboh dan diskusi ringan soal-soal di kabupaten tercinta ini.
Seirama cuaca Flores Timur. Diskusi pun jadi panas dan heboh. Soal BDS. BDS memang sedang jadi isu menarik, panas dan heboh di Flores Timur. Pasca Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen memperkenalkan dan membentuk tim BDS. BDS ini, sejatinya singkatan dari Bisnis Development Service.
Panas dan heboh karena istilah atau sebutan Bisnis Development Service (BDS) ini baru nyaring terdengar di telinga, khususnya masyarakat Kabupaten Flores Timur. Tapi, tidak bagi masyarakat di negara-negara industri maju, seperti Eropa dan Amerika dan lainnya.
Soal BDS ini, ada yang bilang salah, keliru dan tidak tepat diterapkan di daerah. Ada juga bilang, benar, tidak keliru dan tepat diterapkan untuk mendorong dan mengangkat pertumbuhan ekonomi dan usaha masyarakat Flores Timur saat ini.
Tak hanya sampai di situ. Ada lagi yang bilang, tupoksi aparatur sipil negara (PNS dan PPPK), dan organisasi perangkat daerah bisa jadi tumpul dan terancam cukup serius karena ada tim di luar birokrasi dan tata kelola pemerintahan daerah. Jangan-jangan, BDS lahir karena sudah bosan: Bosan Dengan Sistem. Sistem tata kelola birokrasi yang oleh Bupati Anton Doni Dihen dalam satu kesempatan kegiatan menilai penghambat inovasi. Masing-masing dengan alasan dan argumentasi.
Pro-kontra jalan terus. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Semua laman face book dan grup whatsapp penuh dengan teori, pandangan dan pendapat. Tak terelakkan, ada juga yang asal omong sesuai pikiran dan persepsi. Namanya juga diskusi. Ya begitulah.
Belum tahu persis BDS yang dimaksud dan sedang santer di Flores Timur ini. Apa sudah terbentuk secara definitif merujuk pada regulasi-regulasi atau masih samar. Apa dan bagaimana cara kerja? Apakah seperti yang berkembang di negara-negara industri maju, Eropa dan Amerika, atau? Pun masih samar.
Sedikit pasti, ada nama-nama orang yang muncul. Setidaknya, Bupati Antonius Doni Dihen–dalam beberapa kesempatan road show: Waibao, Bayolewun, Waiwadan, Lewograran dan Hewa sudah memperkenalkan tim BDS ini. Tim ini diklaimnya untuk mendukung visi Lompatan Jauh lebih cepat terwujud di tanah Lamaholot, Flores Timur dalam lima tahun ini.
Saya coba cari informasi dan referensi dari berbagai sumber. Disebutkan, bahwa Business Development Service (BDS) adalah layanan komprehensif yang mendukung pertumbuhan dan pengembangan usaha secara berkelanjutan, memastikan pelaku usaha memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses
Tujuannya, untuk meningkatkan kinerja bisnis, memberikan panduan dan dukungan agar usaha dapat berjalan lebih efisien dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar, meningkatkan daya saing: usaha atau bisnis, membantu pelaku usaha/UMKM menjadi lebih kompetitif melalui peningkatan keterampilan dan wawasan.
Editor : Anton Harus
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










