Bahkan oknum polisi yang diduga otak mafia waduk Lambo berusaha mengalihkan perhatian publik dengan menuduh pihak lain secara serampangan dan brutal. Nama Tuhan dibawa-bawa tanpa rasa malu. Nama-nama orang besar yang diduga “orang kuat” disebut-sebut hanya untuk semakin menarasikan wajahnya yang panik luar biasa.
Apakah publik Nagekeo akan mudah percaya, apalagi takut untuk diteror hanya oleh pengakuan seseorang yang berdasarkan data dan fakta lapangan, diduga otak busuk mafia? Otak mafia ini perlu diajar bahwa setan pun bisa mengutip ayat kitab suci.
Kita menduga kuat proses yang dilakukan Propam Polda dalam kasus Tegu Serfolus hanya sandiwara kesekian kalinya yang dipertontonkan Polda NTT. Kita menghormati kerja-kerja aparat penegak hukum tapi kalau berkeliling mewawancarai semua warga di seluruh dunia hanya untuk melindungi seorang Serfolus Tegu yang diduga kuat menjadi otak gerombolan mafia waduk Lambo, publik pantas untuk tidak memercayai institusi Polda NTT.
Oknum polisi yang meneror aktivis PMKRI, warga dan jurnalis di Nagekeo selama ini diduga kuat lahir dari institusi polisi yang (maaf) sudah bobrok. Makan paji percuma. Dia tidak risih makan uang pajak rakyat, termasuk keringat warga Suku Redu, Gaja dan Isa yang mereka teror dan tindas selama bertahun-tahun tanpa kemanusiaan. Oknum polisi ini diduga terus berpesta pora dengan melakukan kejahatan terhadap rakyat kecil pemilik tanah secara terstruktur dan sistematis.
Fakta yang bukan lagi menjadi rahasia publik Nagekeo adalah keberadaan Cakelat Café yang diduga milik Kabag Ops Serfolus Tegu, tidak hanya memelihara ladies yang bisa dipepet dengan siapa pun agar masuk jebakan jejaring mafia tapi juga memelihara para “gentleman.”
Mereka adalah tokoh-tokoh adat-budaya yang dilanda krisis identitas. Kesenangan ditukar dengan tanah ulayat. Sekaligus sewaktu-waktu dibuat menjadi alas dada oleh para mafia. Tokoh-tokoh itu yang hari-hari ini ditampilkan wajahnya di media aba-abal milik gerombolan mafia untuk memuja-muji Serfolus Tegu sebagai “pahlawan” (mafia) waduk Lambo.
Segelintir mantan dan kepala desa di Nagekeo diduga kuat sudah masuk dalam jebakan jejaring mafia waduk Lambo. Jejak orang-orang ini mesti dibuka suatu waktu sebagai bagian utuh dari komitmen membersihkan waduk Lambo dari gerombolan mafia. Semua ini termasuk kotoran-kotoran dan sampah yang harus dibersihkan dari waduk Lambo agar airnya mengalir lancar.
Fakta kondisi kapasitas dan komitmen Propam Polda NTT seperti ini, hanya Mabes Polri yang memiliki kewenangan dan kekuatan institusional untuk bertindak tegas. Sebagai penjaga hukum dan keadilan nasional, Mabes Polri harus mengirim tim investigasi khusus ke Nagekeo untuk menyapu bersih jaringan mafia waduk yang telah mencoreng nama negara dan merusak citra Polri di mata rakyat.
Polisi NTT Melawan Kapolri
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo ketika beraudiensi dengan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Senin (27/10/2025) menegaskan komitmen institusinya menguatkan sinergi antara Polri dan insan pers dan mendukung penuh kerja pers yang profesional. Wartawan adalah mitra strategis Polri dalam menjaga Kamtibmas.
Listyo juga menegaskan komitmen Polri selama ini untuk menyelesaikan delik hukum pers melalui mekanisme Dewan Pers dan meminta jajarannya di seluruh Indonesia untuk menaatinya. Keputusan Dewan Pers akan diikuti oleh Polri (https: meganews.id).










