Oleh: Steph Tupeng Witin
KABUPATEN Nagekeo saat ini diduga berada dalam cengkeraman tangan gerombolan mafia. Jika dibiarkan, hak-hak rakyat habis terambil.
Tulisan ini hanya sebuah catatan berdasarkan data, fakta dan rekaman lapangan. Seorang penulis tidak berpretensi menjadi solusi atas realitas karut-marut ini. Tapi, tanggung jawab kemanusiaan sebagai nilai universal mesti kita kedepankan.
Kekuasaan dalam level apa pun mesti selalu diingatkan agar rentang masa kekuasaan dilalui dalam sikap “terjaga.”
Atas nama kemanusiaan, siapa pun, tanpa dibatasi sekat geografi dan unsur primordial lain, bertanggung jawab untuk memberi setitik terang, meski hanya sekelebat saja, agar membangunkan kesadaran kemanusiaan.
Dalam pengertian sehari-hari, “mafia” tidak selalu merujuk pada kelompok kriminal terorganisir seperti Mafia Sisilia di Italia. Istilah ini lebih luas dipakai untuk menggambarkan kelompok orang yang punya jaringan kuat, eksklusif, tertutup, dan menggunakan pengaruh atau kekuasaan untuk kepentingan sendiri.
Beberapa ciri yang biasanya melekat pada mafia:
*Jaringan tertutup: anggotanya saling melindungi, susah ditembus pihak luar.
*Solidaritas internal: mereka saling bantu untuk mempertahankan posisi atau keuntungan.
*Penyalahgunaan kekuasaan/pengaruh: sering dipandang menggunakan cara “belakang layar”, manipulasi, atau tekanan agar tujuan tercapai.
*Kesan negatif: kata “mafia” identik dengan praktik tidak sehat seperti kolusi, korupsi, monopoli, atau permainan harga.
Contoh penggunaan sehari-hari: “Mafia migas” merujuk pada sekelompok orang yang mengatur bisnis migas secara tidak transparan. “Mafia peradilan” merujuk pada sindikat di dunia hukum yang bisa mengatur putusan pengadilan.
“Mafia tanah” merujuk pada jaringan yang menguasai atau merekayasa sertifikat tanah. Jadi, dalam bahasa sehari-hari, “mafia” adalah sebutan untuk kelompok kepentingan yang bekerja secara sistematis, tidak terbuka, dan sering merugikan masyarakat luas demi keuntungan mereka sendiri.
Praktik mafia di Nagekeo ini publik duga bisa berjalan mulus karena kolaborasi apik dan saling menguntungkan antara lain, oknum polisi -AKBP Yudha Pranata, mantan Kapolres Nagekeo masih bolak-balok Bima-Mbay, untuk apa?- oknum pengacara, oknum pejabat Pemda, oknum DPRD dan oknum masyarakat setempat yang tega “menelan” sesama.
Kita menduga kuat di era Bupati Tjoan, mafia merajalela karena memang para mafia ini, yang menghendaki pemimpin lemah agar bergerak leluasa seperti ulat kepanasan menerjang semesta, tanpa mau terusik oleh orang lain, apalagi oleh pemimpin Nagekeo yang tegas dan konsisten memihak rakyat.










