Dengan harapan mendapatkan uang sebesar Rp 21,8 miliar, si tuan tanah palsu datang ke Paroki Rendu menemui pastor paroki. Ia meminjam uang dari paroki dengan janji membayar kembali sebesar Rp 2 miliar.
Menurut kesaksian umat, Pastor Paroki Rendu memberikan pinjaman kepada si tuan tanah palsu entah berapa jumlahnya. Umat menduga, jumlah yang dipinjamkan cukup signifikan. Indikasinya, pembangunan gedung gereja belum jalan, diduga terkait dengan uang yang dipinjamkan kepada si tuan tanah palsu.
Indikasi lain adalah ujud doa dalam Misa yang dipimpin pastor paroki yang jelas menyebutkan nama si tuan tanah palsu. Si tuan tanah palsu itu disebutkan dan didoakan dalam misa.
Tindakan gembala ini sangat melukai hati umat, khususnya pemilik tanah ulayat asli yang hak-haknya atas tanah hendak dicaplok oleh “tuan tanah palsu” yang orang Rendu kenal kelakuan buruknya dan begitu telanjang didukung oleh gembala umat.
Saat ini, pastor paroki berada dalam situasi sulit. Di satu pihak, dia diduga sudah memberikan pinjaman kepada tuan tanah palsu dan kini berada dalam pengharapan agar uang itu dikembalikan.
Pastor paroki kemungkinan besar sudah mengetahui bahwa si peminjam adalah orang bermasalah. Di lain pihak, pembangunan gedung gereja tersendat, dan ia berada dalam situasi “tertuduh”.
Ungkapan Latin “pecunia non olet”, artinya “uang tidak berbau”, tapi Gereja harus lebih dekat dengan umat agar bisa mengetahui dengan baik masalah yang terjadi. Kita hanya bisa mengimbau agar para gembala lebih dekat dengan domba-dombanya.
Itulah bukti nyata keberadaan seorang gembala. Sebuah ajakan profetis bagi gembala umat agar lebih “berbau domba”, ketimbang “berbau tuan tanah palsu” dan kelompok terduga mafia yang diduga memperalat Gereja untuk merampok hak pemilik ulayat asli lalu mau mendermakan hasil rampokan keringat rakyat untuk Gereja.
Ketika gembala umat dekat dengan domba maka bau dombanya akan ia akrabi sehingga ia tidak murah diperdaya terduga mafia yang berstatus “tuan tanah palsu.”
Tuhan bilang, seorang gembala harus mengenal dombanya. Domba yang berbulu lebat mafia juga bisa diselamatkan tapi kalau domba berbau mafia tanah ulayat memberi derma, apakah Gereja sekadar tong sampah tinja mafia?










