Merawat Kepekaan Kemanusiaan - FloresPos Net

Merawat Kepekaan Kemanusiaan

- Jurnalis

Senin, 25 Agustus 2025 - 09:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Steph Tupeng Witin

Steph Tupeng Witin

Oleh: Steph Tupeng Witin

LAMAHOLOT (Ata Lamaholot) adalah kelompok etnis yang mendiami wilayah Kabupaten Flores Timur dan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Suku Lamaholot mendiami sebagian besar wilayah meliputi bagian timur Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor, dan Pulau Lembata.

Dalam wilayah persebarannya, suku ini membawahi beberapa kelompok etnis yang lebih kecil, seperti suku Lamakera, Lamalera, dan suku-suku kecil lain.

Mereka juga tinggal berdampingan dengan kelompok etnis lain, seperti suku Kedang dan Sikka serta warga pendatang seperti Bugis, Makassar, Buton, dan Bajo. Semua melebur dalam kesatuan dan saling melengkapi dalam hidup bersama.

Baca Juga :  Lembata Tanpa Maling (?)

Wilayah tradisional masyarakat Lamaholot berbatasan dengan wilayah suku Sikka di barat dan suku Kedang di ujung timur Pulau Lembata.

Masyarakat Lamaholot tersebar di wilayah ujung timur Pulau Flores dan pulau-pulau kecil di sekitarnya yang berupa kepulauan vulkanis dengan rangkaian bukit-bukit dan gunung berapi, seperti Gunung Lewotobi, Gunung Ile Lewotolok dan Gunung Iliboleng.

Letak geografis ini berdampak pada klimatologi yaitu mengalami dua musim seperti daerah-daerah lain di Indonesia: musim kemarau dan hujan.

Baca Juga :  Polemik, Kronologi 14 Bidang Tanah dan Terempasnya Dus Wedo

Mata pencaharian utama masyarakat Lamaholot adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman utama padi dan jagung yang dilakukan dengan sistem tebang-bakar.

Setiap tahap pekerjaan harus diawali dengan upacara adat berupa makan sirih-pinang. Pembagian pekerjaan dilakukan berdasarkan jenis kelamin. Pekerjaan berat seperti menebang hutan dan menanam dilakukan oleh laki-laki meski belakangan perempuan kadang mengambilalih pekerjaan itu.

Sedangkan panen dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Mereka juga mengenal sistem gotong-royong (gemohing).

Berita Terkait

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)
Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo
Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis
Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia
Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)
Polemik, Kronologi 14 Bidang Tanah dan Terempasnya Dus Wedo
Mempertanyakan Posisi Moral Pater Mill (Catatan Sekenanya Saja untuk Tulisan di Media Luar Jangkauan)
Rakyat Nagekeo Harus Tolak Bungkam (Dukungan untuk Suku Redu, Isa dan Gaja)
Berita ini 425 kali dibaca
Redaksi: Ikuti terus "ORING" setiap Senin dan Kamis dalam sepekan. Hanya di Florespos.net

Berita Terkait

Senin, 3 November 2025 - 18:05 WITA

Pembangunan Waduk Lambo Tersandung Ulah Mafia (Catatan Kritis untuk Propam Polda NTT)

Kamis, 30 Oktober 2025 - 15:23 WITA

Mewaspadai Terjangan Mafia Nagekeo

Senin, 27 Oktober 2025 - 12:55 WITA

Jangan Lagi Mengkriminalisasi Jurnalis

Rabu, 22 Oktober 2025 - 13:18 WITA

Jangan Biarkan Nagekeo Jatuh ke Tangan Mafia

Senin, 20 Oktober 2025 - 09:55 WITA

Ketika Keadilan Dirampas Kekuatan Mafia Nagekeo (Menelusuri Lebih Dalam Terjangan Mafia Nagekeo)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wings Air Buka Rute Penerbangan Makasar-Maumere Tiga Kali Seminggu

Selasa, 10 Mar 2026 - 18:27 WITA

Nusa Bunga

Mendukung Pemberlakuan Kuota Kunjungan Wisatawan di TN Komodo

Selasa, 10 Mar 2026 - 12:06 WITA