Oleh: Steph Tupeng Witin
HARI baru menghadirkan harapan baru. Berkat sinar matahari pagi menjadi penandanya. Matahari tidak pernah absen apalagi pensiun. Ia setia mencahayai semesta. Mengalirkan kesegaran tanpa batas. Menumbuhkan hidup tanpa lelah.
Kasih Tuhan tidak mengenal musim pensiun. Abadi. Kasih itu adalah berkas sinar matahari-Nya yang setia menerangi kehidupan. Kasih-Nya menumbuhkan harapan, selalu baru.
Kasih-Nya merawat keberlanjutan hidup, tanpa pernah menodainya. Kasih-Nya selalu terbuka bagai buku yang merelakan dirinya dinikmati agar mengalirlah kebijaksanaan. Tuhan itu tampak begitu sederhana di hadapan mukjizat realitas yang menakjubkan.
Karya-Nya sungguh mengagumkan dalam karya manusia yang kecil, sederhana, kadang tak tampak oleh mata manusiawi dan kerap dianggap tidak masuk hitungan oleh pola pikir manusia dan tolok ukur dunia.
Karya manusia yang terbatas dalam bingkai rahmat kasih Tuhan menjadikan waktu itu bermakna, bukan sekadar tumpukan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, tanpa makna.
Hari ini Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD) merayakan hari jadi ke-150 tahun. Sebuah rentang masa yang membuktikan kebesaran kasih Tuhan. Momen berahmat untuk bersyukur kepada-Nya dalam kepasrahan tak terbatas.
Waktu untuk memuliakan Tuhan yang tampak secara konkret dalam deretan karya yang mestinya tidak membuat “orang” menjadi congkak. Saat penuh syukur untuk mengakui dengan jujur, bahkan menepuk dada untuk berbenah dari kejatuhan dan menata kembali reruntuhan bangunan sejarah. Kita masih berziarah di atas dunia ini dengan memikul salib kasih-Nya.
Maka rasa syukur harus menerbitkan harapan baru untuk terus berziarah sepanjang zaman. Tidak pernah boleh berhenti bersuara,apalagi pensiun tentang realitas dunia. Setia hadir di hati dunia seperti Dia yang setia memikul salib saat kita tidak lagi berdaya. Sebuah ziarah dari orang-orang yang berpengharapan.
Berkas pikiran itu merupakan ungkapan dari Santo Arnodus Janssen dalam khotbah pada 8 September 1875. Saya mengutip beberapa penggalan yang sangat relevan dalam nada syukur hari ini dan aktual dalam konteks zaman yang terus bergulir.
Nukilan khotbah itu terdokumentasi dalam buku “Arnold Janssen Hidup dan Karya” buah pena Josef Alt SVD yang terbit di Roma 1999. Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh beberapa anggota SVD yang pernah studi di luar negeri dalam sebuah buku sangat tebal dengan editor Pater Alex Beding SVD.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










