Alasan kesibukan, maka posisi Pater Conterius digantikan oleh Pater Markus Malar SVD pada 1 Juni 1954. Setahun berikutnya, Pater Nic Lalong Bakok, seorang pastor asal Belanda yang nama aslinya Nick Van Der Molen mengambilalih pengelolaan koran ini.
Setelah itu, Bentara dipimpin orang luar gereja yakni A. F. Ladapase dan Frans Tan dari Yayasan Syurakarma, lembaga yang antara lain membangun sekolah Katolik terkenal di Ende: SMUK Syuradikara. Majalah ini gulung tikar tahun 1959 karena terbelit masalah keuangan.
Selain Bentara, pada tahun yang sama juga terbit Anak Bentara, sebuah majalah anak-anak yang dipimpin oleh Pater G. Kramer SVD bersama siswa-siswa Seminari Mataloko, Flores.
Tirasnya pernah mencapai angka 35.000 eksemplar. Ukurannya 21 x 14,8 cm dengan tebal 16 halaman dan dihiasi dengan gambar-gambar. Majalah anak-anak ini akhirnya tutup tahun 1961.
Penyebabnya sama dengan penyebab matinya Bintang Timur dan Bentara, yaitu piutang (uang yang tidak tertagih di tangan pelanggan). Pelanggan suka membaca tapi enggan membayar.
Sejak saat itu, kerasulan di bidang media vakum selama 15 tahun. Tahun 1970-an SVD mulai memikirkan lagi kemungkinan menerbitkan majalah.
Pada 24 Oktober 1974, SVD menerbitkan dua majalah sekaligus. Untuk pembaca dewasa, terbit dua mingguan Dian, sedangkan untuk pembaca anak-anak dan remaja terbit majalah Kunang-Kunang. Dian berukuran 30 x 22 cm, tebal 16 halaman, bergambar. Dian berarti penerang atau lampu kecil dengan bahan bakar minyak.
Kata “Dian” mengungkapkan konotasi pada tujuan yang terkandung dalam kata itu yaitu menerangi, mencerahkan, mencahayai.
Pada era 1970 itu boleh dikata Dian mampu memenuhi kebutuhan pembaca di NTT, bukan hanya di Flores. Memasuki era 1980, edisi dua mingguan ini dinilai tidak memadai lagi.
Maka sejak 1987 Dian berubah dari majalah dua mingguan menjadi surat kabar mingguan. Formatnya pun diubah, dari format majalah menjadi tabloid. Surat Kabar Mingguan Dian beredar luas di NTT hingga era 1990.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










