Pokoknya membangun kesan sopan dan baik karena katanya dekat dengan Tuhan. Semuanya baik, asal itu menenangkan hati nurani menuju Golgotha yang membahagiakan!
Maka, kita mesti omong dengan terbuka: doa tidak cukup. Doa mesti menggerakkan kita untuk terlibat dan melibatkan diri dalam ranah advokasi. Bahasa yang lebih ekaristik: mempersembahkan diri.
Lebih spesifik: memecah-mecahkan diri. Ada buku sangat baik dan indah yang ditulis Uskup Paul Budi SVD Kleden: Teologi Terlibat, Politik & Budaya dalam Terang Teologi (Ledalero, 2003).
Buku ini sangat baik kalau dibaca oleh anggota SVD yang tinggal di daerah konflik Geothermal: Lembata, Ende, Nagekeo, Mataloko (Ngada) dan Manggarai supaya lebih banyak (lagi) berdoa dan tidak berhenti pada “Tuhan Sertamu.”Tapi tergerak untuk mengamunisi diri dengan pengetahuan dan keberanian untuk berdialog dengan rakyat jelata yang sedang gelisah dan ketakutan.
Dialog sebagai jalan salib kehidupan. Selamat ulang tahun SVD ke-150. Teruslah bersuara, entah baik atau tidak baik waktunya (2Tim 4:2).
“Yang kami tahu ialah bahwa dengan kekuatan yang kami miliki hingga kini, kami tidak dapat menunaikan tugas kami namun kami berharap, kiranya Allah yang Mahabaik akan memberi kepada kami segala sesuatu yang diperlukan” kata Arnold Janssen pada 8 September tahun 1875.
Salam persaudaraan dalam kelimpahan kasih-Nya! *
Penulis, Jurnalis, Pendiri Oring Literasi Lembata










