SVD: Dari Logos Menuju ‘Filosof Praksis’ - FloresPos Net

SVD: Dari Logos Menuju ‘Filosof Praksis’

- Jurnalis

Senin, 8 September 2025 - 12:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Oleh: Anselmus DW Atasoge

SEJARAH terus bergerak dan hari ini untuk Serikat Sabda Allah (SVD) dirayakan sebagai 150 tahun kelahirannya. Inilah jejak waktu yang mengandung makna, arah, dan harapan.

Serikat Sabda Allah (SVD), sejak kelahirannya di Steyl, Belanda, telah menapaki jalan panjang sebagai komunitas religius yang tidak hanya mewartakan Injil, tetapi juga menghadirkan terang dalam arti filosofis yang mendalam yakni sebagai pencerahan eksistensial, etis, dan sosial.

Tema yang dipilih untuk perayaan ini adalah “Bersaksi tentang Terang dari Segala Penjuru bagi Setiap Orang”. Bagi saya, ini bukan sekadar slogan spiritual. Ia mengandung resonansi ontologis dan praksis: bahwa terang bukan hanya simbol ilahi, tetapi juga panggilan untuk hadir secara radikal dalam realitas manusia, hic et nunc, di sini dan sekarang.

Dalam tradisi filsafat, terang sering dikaitkan dengan akal budi (logos), kebenaran, dan pembebasan. Dari Plato yang melihat terang sebagai bentuk ideal, hingga Heidegger yang memahami terang sebagai keterbukaan terhadap ‘Ada’, SVD telah menjadi partisipan dalam proyek besar kemanusiaan: menghadirkan terang sebagai jalan menuju pemahaman, keadilan, dan kasih.

Baca Juga :  Futsal Ekasapta, Sumpah Pemuda dan Seribu Wajah Indonesia

Santo Arnoldus Janssen, Sang Pendiri, dengan spiritualitas Trinitas yang mendalam, tidak sekadar membangun kongregasi. Ia merumuskan sebuah etika relasional yang melampaui batas-batas geografis dan dogmatis. Dalam terang Tritunggal, relasi menjadi pusat: antara Allah dan manusia, antara sesama, antara komunitas dan dunia.

Kini, SVD telah mengutus lebih dari 5.700 misionaris di 79 negara. Mereka bukan sekadar utusan rohani, melainkan ‘subjek praksis’ yang menjadikan terang sebagai tindakan konkret.

Dalam berbagai konteks budaya dan sosial, mereka membangun sekolah sebagai ruang pembebasan, rumah sakit sebagai tempat pemulihan martabat, dan gereja sebagai komunitas dialog yang inklusif. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata dari spiritualitas yang berpihak pada kehidupan, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam kerja dan pelayanan yang menyentuh akar kemanusiaan.

Baca Juga :  Membaca Wajah Pilkades Manggarai Barat: Antara Politik Uang, Biaya Politik dan Residu Demokrasi Desa

Dalam hal ini, SVD telah menjelma menjadi ‘filosof praksis’ yakni komunitas yang tidak hanya berpikir tentang dunia, tetapi berani mengubahnya. Mereka menghidupi terang sebagai etika keberadaan, sebagai panggilan untuk hadir secara penuh dalam realitas yang kompleks dan sering kali penuh luka.

Dengan semangat Santo Arnoldus Janssen dan spiritualitas Trinitas yang mendalam, SVD terus menjadi saksi bahwa iman yang hidup adalah iman yang bergerak, yang membebaskan, dan yang membangun jembatan harapan bagi setiap orang.

Dalam konteks dunia yang dilanda fragmentasi, polarisasi, dan krisis makna, kehadiran SVD menjadi relevan secara filosofis. Mereka tidak menawarkan dogma, tetapi dialog. Tidak memaksakan kebenaran, tetapi mengundang partisipasi dalam terang yang membebaskan.

Berita Terkait

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Berita ini 227 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Berita Terbaru