Tanaman lain yang dibudidayakan adalah ubi kayu, kacang-kacangan, sorgum, pisang, nangka, kopi, kemiri, kelapa, dan lain-lain.
Alat-alat pertanian yang digunakan masih sederhana berupa parang, kapak, tofa untuk membersihkan rumput, tugal, dan pisau untuk memanen padi. Kemajuan peradaban menghadirkan alat-alat pertanian modern tapi masih terkendala keadaan geografis yang berbatu dan berbukit-bukit.
Wilayah ini terkenal gersang, kering dan berbatu. Alam yang gersang dan kikir ini sesungguhnya menyimpan mutiara yang tidak pernah bertepi dikejar warga. Entah sampai kapan.
Orang-orang yang berasal dari wilayah yang subur dan kaya pasti terperangah memandang kegigihan perjuangan hidup warga. Lamaholot benar-benar menakjubkan. Segala serba terbatas dan jauh dari “sempurna” tapi semangat hidup dan gelora pikiran mencari jalan keluar menjadi energi yang tak pernah padam.
Orang Lamaholot biasa memiliki sebuah pondok kecil nan mungil yang dibangun di tengah kebun atau ladang. Sebagian besar wilayah Lamaholot menyebutnya: Oring. Warga di bagian pantai selatan Lembata menamakannya: Snugur. Struktur bangunan sederhana. Beratap daun kelapa, daun lontar dan sejenis rumput panjang yang dijemur sampai kering dan diikat menjadi berkas-berkas kenyal. Warga menamakan: rumput alang-alang.
Umumnya, Oring dibangun tanpa dinding. Di dalam ada tempat duduk panjang, bale-bale, ulisa. Orang biasa duduk, beristirahat dari terik siang dan makan saat berkebun.
Konteks sosial, Oring adalah arena berkumpul warga untuk bercerita dan bertukar pikiran. Biasanya dilakukan setelah kaum laki-laki mengiris tuak putih dari pohon lontar atau pohon kelapa. Pekerjaan itu dilakukan kaum lelaki usai berkebun. Sore hari. Mereka duduk di atas bale-bale sambil menikmati senja. Mereka bercerita soal-soal keseharian sambil menikmati tuak (moke putih), jagung titi, ubi bakar, ikan bakar dan menu lokal lain.
Orang merajut kebersamaan dalam narasi sambil membangun kepekaan sosial untuk merawat hidup bersama ala kampung. Setiap orang merasa memiliki kesadaran sosial bahwa perlu ada ruang untuk membangun dialog dan bertukar pikiran.
Tercipta sebuah ruang sosial untuk saling memerkaya khazanah pemikiran dan merawat kepekaan (sosial) bersama.
Nama “Oring” akan menjadi ruang intelektual dalam media ini sebagai catatan sederhana dan ringan atas berbagai fakta yang berseliweran di NTT, khususnya Flores dan Lembata.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










