Oleh: Steph Tupeng Witin
RAJA Belanda, Willem-Alexander dalam pidato di Staten Generaal atau parlemen Belanda, Selasa (16/9/2025) menegur anggota parlemen Belanda dengan sangat keras.
Teguran raja ini sangat memukul nurani anggota parlemen. Tidak lazim bagi ratu atau raja Belanda berkomentar soal politik dan perilaku parlemen. Kehormatan parlemen sesungguhnya terletak pada perjuangan untuk memuliakan kehidupan rakyat.
Saat duduk di ruang sidang, pikiran dan perasaan anggota parlemen itu terarah kepada rakyat. Integritas dan kehormatan teruji dalam praktik hidup sederhana dan tidak memanfaatkan jabatan sebagai privilese untuk melukai hati rakyat.
Maka kalau sampai raja atau ratu Belanda berkomentar bahkan menegur anggota parlemen secara terbuka melalui sebuah pidato publik di hadapan parlemen, itu bukti kuat bahwa para politisi di parlemen sudah “keterlaluan” perilakunya terhadap rakyat.
Raja Willem-Alexander mengajak parlemen Belanda untuk lebih peka dan kritis memahami persoalan dan kesulitan rakyat yang harus segera dijawab para politisi.
Sementara anggota parlemen lebih sibuk berdebat dan berebut kekuasaan. Rakyat yang sedang susah hidupnya membutuhkan wakil yang tidak berpesta pora dan pamer hidup mewah di tengah hamparan derita dan air mata.
Rakyat butuh penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tiap hari, lingkungan yang aman, rumah bagi rakyat yang aman untuk anak-anak. Bagi generasi muda, memiliki tempat tinggal penting demi menjamin kemandirian (Kompas 18/9/2-25).
Perilaku tidak terpuji anggota parlemen atau anggota DPRD tidak hanya menjadi konsumsi publik Indonesia. Tapi kita tidak membaca rakyat Belanda yang marah kehilangan kewarasan menjarah rumah anggota parlemen.
Rakyat Belanda sangat maju dalam pendidikan karakter, moral dan etika sosial. Orang tahu membedakan ruang privat dan ranah publik. Perdebatan mesti berlangsung di ruang publik sebagai bagian dari demokrasi. Ruang perbedaan mesti dibuka untuk mencapai kompromi demi kepentingan rakyat.
Kita juga tidak membaca bahwa ada anggota DPRD atau parlemen di Belanda yang berteriak-teriak di lorong-lorong gedung parlemen. Mungkin saja di negara kita perlu orang-oang jenis ini untuk membuka kesadaran sesamanya di parlemen dan memantik simpati parlemen jalanan. Mungkin juga agar viral di media sosial karena ditonton konstituennya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










