Bupati Jadi Harapan
Kunci perdebatan dan protes publik terkait tunjangan DPRD Lembata sesungguhnya ada di tangan Bupati Lembata, Kanis Tuaq. Tunjangan DPRD Lembata itu dibayar oleh pemerintah karena payung hukum: Peraturan Bupati (Perbup). Rakyat butuh karakter kepemimpinan Bupati Kanis yang harus kuat dan teguh.
Fokus program kampanye untuk masyarakat petani dan nelayan saatnya ditegakkan. Bupati sebenarnya bisa menurunkan tunjangan DPRD Lembata dengan meninjau kembali Perbup sebelumnya yang memungkinan protes publik saat ini. Maka fokus diskursus dan demonstrasi harusnya kepada Bupati Lembata.
Birokrasi mesti diberi penguatan melalui pikiran, gagasan dan diskusi yang kritis untuk meluaskan wawasan dan membangun komitmen.
Bupati Lembata bisa menurunkan tunjangan meski akan menuai protes dari DPRD. DPRD pasti ribut.
Tapi ributnya DPRD saat ini hanya karena melawan keinginan menerima tunjangan di tengah kondisi rakyat yang susah, akan berdampak buruk bagi karier politiknya.
Bupati, kalau berani untuk rakyat, bisa menggunakan strategi: menjadikan Perbup sebagai bargaining politik dalam memaksa DPRD. Pemerintah punya kewenangan membayar gaji DPRD. Rakyat akan menyaksikan selama kurun waktu itu memang DPRD pasti dilanda kegelisahan dan kebingungan luar biasa.
Semoga mereka dan kebun sehingga bisa makan ubi dan pisang dari kebun. Jika DPRD tetap menolak usulan penurunan tunjangan yang tidak wajar, bahkan menolak untuk menandatangani persetujuan APBD, pembangunan tidak bisa berjalan dan hal sangat bisa memantik kemarahan rakyat lebih besar lagi dalam demonstrasi.
Kuncinya, rakyat bersama aktivis berjalan bersama pemerintah melakukan tekanan ke DPRD. Ketika pemerintah melakukan kebijakan terbaik untuk memuliakan rakyat, segenap komponen pasti mendukungnya.
Perlawanan terhadap perilaku wakil rakyat merupakan upaya konstruktif: mengembalikan DPRD ke jalur demokrasi dan konstitusi yang benar dan adil. Regulasi negeri ini sebagai buah dari konstitusi saja dilanggar. Mestinya rakyat tidak pernah boleh tinggal diam, apalagi membungkam di hadapan realitas ini.
Momen ini juga menjadi rahmat bagi partai politik untuk berbenah diri. Saatnya menggembleng anggota partai agar menjadi militan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dan tidak sekadar menjadi “pekerja” partai yang mesti setia menyetor fulus. *
Penulis, Jurnalis, Pendiri Oring Literasi Lembata










